Home > Fakta, Umum > Ketika Para Ulama Dijadikan Lelucon dan Tertawaan…

Ketika Para Ulama Dijadikan Lelucon dan Tertawaan…

21 - August - 2007 nyata

KETIKA ULAMA DIJADIKAN LELUCON & TERTAWAAN
Topik kita kali ini masih seputar sepak terjang Qiblati “Agus Hasan” Al-Ikhwani. Sebelum kita membeberkan FAKTA menyakitkan sebagaimana judul di atas, akan kami tunjukkan bukti “kehebatan” majalah Qiblati yang dipimpin oleh Agus Hasan Bashari si penerjemah Fatwa Keji Hizbul Irsyad Penghina Para Ulama Pewaris Para Nabi yang tentunya bekerjasama dengan para Irsyadi. Semoga Allah membalas kejahatan mereka dengan balasan yang setimpal, amin.
Para ustadz mereka, jelas beraliansi dengan Abdullah Hadrami pembela takfiri-ba’asyiri bom bunuh diri (baca transkrip Bedah Buku Abduh ZA di kota Malang) dan Turatsi Khalid Syamhudi beserta Zainal Abidin (lebih jelas, lihat sepak terjang da’i ini bersama Al-Sofwa Al-Muntada Al-Hizbi)

http://img183.imageshack.us/img183/7282/qiblatiturotsihadromi1ad9.jpg

Baru-baru ini Qiblati telah sukses mendatangkan para ulama Mekah, termasuk kehadiran mufti Masjidil Haram Fadhilatu Syaikh DR. Abdurrahman Al-Qassas.

http://img469.imageshack.us/img469/7040/qiblatiundangulamaop0.jpg

“Lebih dari itu semua sejak saat ini beliau secara resmi menjadi mustasyar (penasihat) bagi majalah Qiblati yang tercinta ini. Tatkala yang mulia mufti Masjidil Harammenjadi penasihat Qiblati, maka ini bagi kami artinya sangat banyak, minimal ini menunjukkan bahwa kita berada di atas manhaj yang benar –insya Allah – dan kita berjalan dengan langkah yang benar.” (Qiblati, ed.11 tahun II-Agustus 2007, rubrik Assalamu’alaikum).
Maka mulai edisi tersebut yang tertulis:

http://img168.imageshack.us/img168/3815/qiblatipengantarredaksipd8.jpg

Penasehat: MUFTI Masjidil Haram Syekh DR.Abdurrahman al-Qassas!!
Demikianlah, Qiblati mengukuhkan diri menjadi satu-satunya majalah dengan penasehat MUFTI Masjidil Haram, Yassalam!
Dan sekarang saatnya kita simak isi majalah yang “sudah selayaknya kita bergembira, bersuka cita dengan adanya kepercayaan yang diberikan kepada kita ini.” (ibid)
Inilah cara Qiblati bersuka cita dan mereka ingin menunjukkan kepada semua pembaca majalahnya bukti keakraban serta kedekatan Agus Hasan Bashari beserta kru Qiblatinya dengan para Masyayikh…
1. Pada saat rihlah (tamasya) ke Air Terjun Coban Rondo Batu, Syekh Mamduh meminta kepada Syekh Khalid untuk membacakan sebagian ayat-ayat al-Qur’an karena suara beliau sangat indah dan merdu. Maka Syekh Khalid segera membuka mushhaf dan membaca dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya:
“Dihalakan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah:187)
Karuan saja para masyayikh langsung tertawa sebab ayat yang dibaca tentang hubungan suami istri di malam hari di bulan Ramadan, bukan tentang keajaiban alam ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka Syekh Mufti mengomentari bahwa kasus Syekh Khalid mirip dengan yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi tentang orang-orang pandir, mereka membaca al-Qur’an tidak pada tempatnya,…”
Komentar:
Tidak perlu komentar lebih panjang lagi, demikianlah kewibawaan ulama di sisi Qiblati yang mesti dipublikasikan agar diketahui oleh segenap umat Islam!! Entah, apakah Syaikh Khalid membawakan ayat tersebut semata karena ingin menciptakan suasana yang lebih santai dan segar ataukah “kepandiran” (baca:bahan tertawaan) Qiblati yang dipertontonkan?! Wallahul musta’an.
Benar-benar kisah yang dipublikasikan “tidak pada tempatnya!”
 
2.Di Villa Masyayikh Batu ada satu kolam renang yang sangat indah. Para Syekh tidak pernah memanfaatkannya kecuali sekembalinya dari penutupan daurah. Syekh Khalid lansung menceburkan diri ke dalam kolam dan beliau sangat mahir dalam berenang. Berbeda dengan Syekh Khalid, Syekh Yusuf yang berbadan subur alias gemuk itu begitu menceburkan diri ke dalam kolam, langsung menggigil kedinginan dan megap-megap karena selama hidupnya tidak pernah berenang sama sekali. Karena berbadan besar dan gaya renangnya tidak karuan maka airpun banyak termuntahkan dari kolam, maka Syekh Mamduh dengan senyum lebar mengomentarinya: “Wah, kita hari ini sedang menonton contoh kecil dari gelombang Tsunami.”
Pada waktu itu Syekh Mufti, Syekh Mamduh dan Syekh Misy’al lebih asyik menikmati makan siang di ruang lesehan pinggir kolam, mereka bertiga memanas-manasi Syekh Khalid dan Syekh Yusuf untuk terus mandi biar tidak ikut makan siang yang lezat itu. Karena Syekh Yusuf tidak pandai berenang maka beliau terus menurus meminum air kolam, melihat hal itu Syekh Mufti berkomentar: “Antum harus membaca do’a:
الحمدلله الذي أطعمنا و سقانا
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum pada kami.”
(Cerita Unik, ibid, hal.15)
Komentar:
Benar-benar Qiblati telah “menelanjangi” sosok fisik para ulama yang mereka undang sendiri. Saya tidak ingin ada diantara pembaca yang memiliki pemikiran bahwa Qiblati sengaja mencari Villa yang ada kolam renang  yang sangat indah agar dapat menceritakan secara gamblang kepada para pembacanya gambaran fisik para ulama yang mereka undang, siapa yang “berbadan subur alias gemuk”, siapa yang pandai berenang dan tentu saja siapa pula ulama yang “menggigil kedinginan”, “megap-megap” karena “gaya renangnya tidak karuan” dan tentu saja “terus menerus meminum air kolam!”
Adalah kisah yang benar-benar unik bahwa Irsyadiyyun illegaliyyun, tetangga sebelah (Abu Salma) yang lantang berkoar-koar menuding kami menggunakan cara-cara agen CIA dalam menulis artikel! Kalau dia jujur tentu akan mengakui bahwa reportase majalah kebanggaan ustadznya ini mirip dengan cara kerja agen rahasia (tidak hanya CIA!) pada umumnya! Mereka harus menjelaskan secara detail “para buruan” yang dibidiknya! Bentuk fisiknya, tingkah lakunya dan seterusnya dan seterusnya yang tidak akan pantas diberitahukan dan disiarkan kepada masyarakat. Hanya saja CIA memiliki sedikit kelebihan  dibandingkan Qiblati. CIA tahu benar kepada siapa “laporan rahasia” tersebut mesti diceritakannya. Adapun Qiblati? Tentu saja mempublikasikan “laporan rahasia” tersebut “tidak pada tempatnya!” Entah, apakah Qiblati ingin mengokohkan diri sebagai majalah yang “mirip dengan yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi tentang orang-orang pandir, mereka membaca al-Qur’an menceritakan suatu kisah yang tidak pada tempatnya,…”
Apa perlunya umat mengetahui kisah-kisah Masyayikh seperti ini? Dengan tingkah laku kalian seperti ini, sungguh kami sangat kuatir bahwa posisi tidurnya serta apapun aktifitas gerakan para ulama juga kalian rekam dalam video yang pada saatnya nanti akan kalian pertontonkan kepada umat!!
Apakah engkau –wahai Qiblati- hendak mengajak segenap kaum muslimin agar menertawakan para ulama?! Allahu yahdikum!
 
Ada kisah Masyayikh lain yang diceritakan Qiblati dengan lebih “sarkasme” (gaya bahasa kasar), “nekat dan lucu”, “ngebut namun meliuk-liuk”, “seperti sopir mabuk”, “sopir yang ugal-ugalan” yang “sangat mungkin bisa mengantarkan ke rumah sakit!” dimana “semua gerakan nekat dan lucu itu kita rekam dengan video!!”
 
3. Ketika pergi ke Watu Ulo dari kota Jember, kami mengendarai 2 mobil. Rombongan masyayikh dengan sopir Abu Hasan dan rombongan Qiblati dengan Abu Salma. Karena Abu Hasan jatuh sakit maka sopir diambil alih oleh Syekh mamduh tanpa terencana. Kami mengira beliau sudah mahir, mengingat di Makkah kalau mengendarai mobil sangat lihai. Kami berada di belakang mobil masyayikh. Tiba-tiba kami sangat terkejut melihat mobil syekh Mamduh berjalan ngebut namun meliuk-liuk, ke kanan dan ke kiri. Sepertinya sopirnya mabuk, padahal tidak mabuk, Maklum, kebiasaan di Saudi menggunakan setir kiri. Debu dan sampah sering kali berhamburan mengotori kaca depan mobil kami setiap kali mobil Syekh keluar dari aspal. Kita yang sudah ngantuk kelelahan mendadak melotot, berdebar-debar campur tawa sepanjang perjalanan. Betapa tidak, mobil Syekh kalau ke kanan terlalu ke kanan sampai melewati marka jalan dan kalau ke kiri terlalu minggir hingga jauh keluar dari badan jalan. Sampai hampir saja menabrak seorang petani yang sedang berjalan sambil mengayun-ayunkan sabitnya. Semua gerakan nekat dan lucu itu kita rekam dengan video. Saat mobil berhenti kita dekati Syekh dan kita rekam dari dekat, Syekh pun tersenyum dan melambaikan tangan, karena tidak mengerti yang kita maksudkan. Saat kita beristirahat di villa, rekaman itu kita tunjukkan. Semua Syekh tertawa, apalagi pada saat nampak wajah Syekh dari dekat, beliau mendengar suara komentar dari penyuting: “Inilah supir yang ugal-ugalan itu!” Alhamdulillah kami tiba dengan selamat. Malam itu, akhirnya kami merawat “bang sopir” kita dengan baik agar esok harinya bisa mengantar pulang dengan aman, daripada disopiri syekh yang bisa membuat jantung deg-degan atau sangat mungkin bisa mengantarkan ke rumah sakit!
Komentar:
Qiblati, demikiankah cara kalian membalas budi pada orang yang telah menyuapi dan memberikan lapangan pekerjaan pada kalian? Adakah umat yang percaya bahwa Agus Hasan Bashari-lah yang mampu mendatangkan para ulama Mekah? Bukankah ini semua hasil lobi dan perjuangan Syaikh Mamduh? Apakah Qiblati mampu terbit dan berjalan jika Syaikh Mamduh tidak mendanainya?! Haihata…haihata…
Suatu kisah yang sangat mendebarkan, mobil yang dinaiki oleh para masyayikh Mekah yang berjalan zig-zag dengan membahayakan NYAWA para penumpangnya (baca:PARA ULAMA MEKAH!) serta pemakai jalan lainnya dan kalian wahai Qiblati masih mampu berdebar debar “CAMPUR TAWA SEPANJANG PERJALANAN?!”
Wallahi, demi Allah ini adalah sikap yang sungguh sungguh sangat dan sangat keterlaluan serta melampaui batas!!”
Ada saatnya bergurau dan ada pula saatnya kita harus bersikap sebagai  orang yang beradab!! Apalagi adab dan sopan santun terhadap para ulama!!
Bukanlah kisah lucu yang pantas ditertawakan ketika nyawa para ulama Mekah menjadi taruhannya! Dan bukan pula sikap lucu yang patut mengundang tawa ketika pejalan kaki hampir mati tertabrak mobil kalian! Dengan cara "tidak beradab" seperti inikah kalian ingin menunjukkan kepada umat betapa cintanya kalian kepada para ulama dan betapa dekat serta akrabnya kalian kepada mereka?!
Bukankah sikap “sopir ugal-ugalan”, “ngebut namun meliuk-liuk”, “seperti sopir mabuk” dan mengemudi tanpa SIM adalah pelanggaran wahai Qiblati? Lalu di mana letak “keLUCUan” itu sebagaimana ungkapan kalian?! Dan semua kisah memilukan (baca:pelanggaran tata tertib lalu lintas) yang membahayakan nyawa seperti ini kalian anggap sebagai “kisah unik” yang pantas diketahui oleh umat?! Sungguh sepantasnya bagi kalian untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala bahwa semua "ugal-ugalan" ini tidak berurusan dengan polisi! Tidak berakhir di Rumah Sakit!! Adakah semua tragedi ini sesuatu yang lucu wahai Qiblati Al-Ikhwani?! Ataukah kalian ingin mempublikasikan berita besar para Masyayikh Mekah di Indonesia? Ataukah kalian memang ingin menghancurkan muruah orang yang menyuapi dan menggaji kalian selama ini? La haula wala quwwata illa billah.
Tetapi sungguh kami tidak terkejut dengan sikap “luar biasa sopan” yang “di luar kebiasaan kesopanan” ini! Sebuah sikap yang sama sekali tidak ada korelasi dan kaitannya dengan sikap majalah yang menggembar-gemborkan dirinya kepada umat sebagai majalah yang "menyatukan hati dalam sunnah Nabi!!"
Bukankah ustadz kebanggaan kalian (Agus Hasan) telah mengajarkan uswah untuk bersikap kurang ajar dan biadab kepada para ulama pewaris para Nabi? Tentu kalian belum lupa bagaimana orang ini bersama PP.Al-Irsyad menikam dan melecehkan kehormatan para ulama pewaris para nabi!
Haihata..haihata adakah air comberan nan bau akan menghasilkan air minum nan menyehatkan?!
Tidak perlu bagi anda sekalian untuk membeli Qiblati majalah “ugal-ugalan” seperti ini, bagi siapa saja yang tidak percaya dengan tulisan kami, walhamdulillah cukup klik di sini sebagai bukti FAKTAnya:

http://img184.imageshack.us/img184/3467/qiblatiunik1cd4.jpg

Tampaknya, (tanpa kami bermaksud menggurui) para ulama harus lebih berhati-hati jika diundang oleh Qiblati Al-Ikhwani jika tidak ingin kisah-kisah pribadi mereka dipublikasikan oleh Qiblati sebagai bahan lelucon dan tertawaan para pembacanya. Tetapi kami percaya, bagi para pembaca yang masih memiliki akhlak dan sopan terhadap para ulama tentu sepakat dengan kami bahwa semua kisah di atas bukanlah “kisah unik” tetapi kisah tentang Majalah Pandir yang menceritakan suatu kisah yang tidak pada tempatnya! 
Tetapi Qiblati tentu memiliki “senjata ampun nan licin” untuk melegalisasi kisah-kisah yang menjatuhkan muruah dan kewibawaan para ulama, apa itu? Tulisan…
“Penasehat: MUFTI Masjidil Haram Syekh DR.Abdurrahman al-Qassas!”
Apakah Syaikh Mufti masjidil Haram juga menghalalkan Kinan komik bergambar Sabung Ayam sebagaimana terdapat pada halaman “mim” dan “nun” di majalah “ugal-ugalan” ini?
Haihata…haihata jika kalian berbangga-bangga dengan “nebeng’ para ulama maka engkau akan celaka!
Taktik klasik bahwa hizbiyyin selalu “nebeng’ para ulama untuk melariskan dagangan hizbiyyahnya!
Terakhir, tentu saja Qiblati harus berterima kasih kepada  Chalid Bawazer gembong Irsyadiyyun liar yang telah menyediakan apartemen Inez selama 3 hari serta L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Al-Ikhwani Jakarta yang menyediakan 1 tenaga professional selama 10 hari! Siapa dia? Saudara kandung Abu Hamzah Agus Hasan al-Qamari sendiri, yakni Abu Salma al-Qamari M.Syu’aib al-Faiz yang merangkap menjadi Staf Redaksi Qiblati!

http://img168.imageshack.us/img168/6921/qiblaticholidldataikhwasm6.jpg

Benar-benar FAKTA sinergi KLIK hizbiyyah yang NYATA.
Pertanyaan sangat sederhana kepada Qiblati yang telah memproklamirkan diri bersuka cita karena Mufti Masjidil Haram dicantumkan sebagai penasehat majalah ini. Kita telah mengetahui bahwa Qiblati lahir dari “rahim” L-DATA Al-Ikhwani Jakarta via L-DATA Cabang Jogjakarta (PP.Taruna Al-Qur’an) yang dikendalikan langsung oleh Umar Budihargo. Apakah Mufti Masjidil Haram juga ridha dengan Tafsir Fi Dzilalil Qur’an yang dipromosikan oleh lembaga anda? Apakah Mufti Masjidil Haram juga ridha dengan berbagai artikel dan pemahaman Ikhwani yang dipublikasikan dan disebarkan oleh lembaga anda? Apakah Mufti Masjidil Haram ridha dengan para tokoh Partai Ikhwanul Muslimin yang memenuhi lembaga anda? Apakah Mufti Masjidil Haram juga ridha dengan lembaga yang menjadi corong fikrah Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, Qaradhawi dan selainnya? Ataukah semua pertanyaan ini hanyalah fitnah belaka? Siapa yang mampu mengingkarinya?! Jika demikian, apalah arti penampilan kalian di depan masyayikh sebagai Ahlussunnah yang mendakwahkan manhaj Salaf? Ataukah ada korelasi antara pemahaman Ikhwani kalian dengan dakwah Ahlussunnah?! Sungguh bukti dan FAKTA telah mendustakan pengakuan kalian! Allahu yahdikum.
 
FAKTA, kisah FAhit ulama meKah yang nyaTA!
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
(Abdul Hadi)