Archive

Archive for 11 - May - 2008

Ahmadiyah Telanjang Bulat (2)

11 - May - 2008 nyata Leave a comment

AHMADIYAH SEBAGAI SINCRETISME AGAMA[1]

IDENTITAS SANG PEMIMPIN
Nama dan keturunan: Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah, mempunyai banyak nama dan keturunan. Suatu keistimewaan buat dia, “konon” semua itu diperoleh dari Tuhannya. Bahkan yang lebih menarik lagi, Mirza Ghulam Ahmad menguasai banyak bahasa, diantaranya: Bahasa Urdu, Inggris, Arab, Parsi, dan bahasa Ibrani. Dengan bahasa-bahasa itulah ia berdialog dengan Tuhannya.

Puteranya yang masyhur, Bashiruddin Mahmud Ahmad (1899-1965) yang menduduki tahta khalifah kedua dalam Jema’at Ahmadiyah, menulis tentang saat-saat kelahiran ayahnya sebagai berikut:

" Hazrat Ahmad as. lahir pada tanggal 13 Februari 1835 M, atau 14 Syawal 1250 H, hari Jumat, pada waktu shalat Subuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar. Yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama kemudian meninggal dunia. Demikianlah sempurna sudah kabar-ghaib yang tertera di dalam kitab-kitab agama Islam bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar”.[2]

Demikian Bashiruddin M.A. menceritakan kelahiran ayahnya. Yang menjadi pertanyaan di sini ialah, oleh siapa dan pada siapa kabar ghaib lahir kembar itu telah disampaikan? Kemudian dalam buku-buku Agama Islam yang mana kabar itu dimuat?

Kiranya Bashir M.A. dan Ahmadiyahnya tidak berhasrat atau kurang perlu untuk menyebut nama orang-orang maupun buku-buku Islam yang menyebut berkenaan dengan kabar ghaib dan lahir kembar itu.

Lebih lanjut, perihal nama-nama yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, Bashiruddin maupun Ahmadiyah berkata:
"Asal nama beliau hanyalah Ghulam Ahmad, atau nama lengkap (full name) beliau adalah Ghulam Ahmad". [3]

Kemudian terdapat di depan Ghulam Ahmad, sebuah nama lagi ialah Mirza. Dengan demikian nama kepanjangannya menjadi Mirza Ghulam Ahmad. Di antara ketiga sebutan tadi, hanya Ghulam sajalah yang tidak diperbincangkan. Sisanya yakni Mirza dan Ahmad, merupakan nama-nama yang mengandung di dalamnya arti dan tujuan yang istimewa. Betapa tidak istimewa? Allah sendiri (kata Bashiruddin) yang sering memanggil-manggilnya dengan nama Ahmad!!

Kebiasaan beliau adalah suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka, waktu menerima baiat dari orang-orang, beliau hanya memakai nama Ahmad. Dalam ilham-ilham , Allah Ta’ala sering memanggil beliau dengan nama Ahmad” [ibid]

http://img88.imageshack.us/img88/931/asalnamazv0.jpg

Bashiruddin Mahmud Ahmad juga menjelaskan, perkataan atau sebutan nama MIRZA adalah untuk menyatakan bahwa ayahnya keturunan dari MUGHAL (Moghol).

Hazrat Ahmad as. adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap disana. Tetapi pada abad kesepuluh Hijriah atau abad keenambelas masehi, seorang keturunan Haji Barlas, bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias dengan mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km jauhnya dari sungai tersebut. [4] Disinilah kiranya darah keturunan Moghol Mirza Ghulam Ahmad dialirkan.

Lebih lanjut Bashiruddin menukil tulisan Sir Lepel Griffin dalam bukunya The Punjab Chiefs, tentang keluarga Hazrat Ahmad a.s : "Dalam tahun-tahun yang akhir dari kerajaan Kaisar Babar, yakni pada tahun 1530 masehi, seorang Moghol bernama Hadi Beg meninggalkan tanah tumpah darahnya ialah Samarkhand dan pindah ke daerah Gurdaspur di Punjab".[5]

Hadi Beg inilah yang mendirikan kota Qadian, tempat lahirnya Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya. Hadi Beg termasuk dalam urutan yang keduabelas ke atas dari kakek-kakek Mirza Ghulam. Akhirnya lebih meyakinkan lagi tentang keturunan mogholnya itu, ayah Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Ghulam Murtaza memberi tahu anaknya bahwa nenek-nenek moyangnya adalah dari keturunan Moghol.[6]

Demikian kesaksian sejarah Ahmadiyah tentang darah Moghol yang mengalir dalam tubuh Mirza Ghulam Ahmad. Sayang bahwa darah Moghol ini tidak menjadi kebanggaan bagi yang empunya maupun bagi Ahmadiyahnya. Mungkin dikarenakan arti maupun tujuan dari darah itu kurang atau tidak istimewa, atau sama sekali tidak berarti.

Alasannya bisa diduga mengapa darah Moghol sampai diabaikan begitu saja. Yang penting untuk diketahui ialah, bahwa setiap nama maupun keturunan yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, bahkan gelar-gelarnya sekalipun, datangnya dari pemberian Tuhannya. Itulah sebabnya meskipun kenyataannya darah Moghol mengalir dalam tubuh Mirza Ghulam, akan tetapi karena bukan dari pemberian Tuhan, maka Mirza segera menumpangi kualitas Mogholnya itu dengan darah lain yang baru. Ia berkata:

"Aku mendengar dari ayahku bahwa kakek-kakekku berdarah Moghol, akan tetapi aku mendapat wahyu dari Tuhan, bahwa kakek-kakekku berdarah Parsi" [7]

Dengan perkataan "akan tetapi", lebih-lebih lagi ditambah dengan “mendapat wahyu dari Tuhan" maka praktis kata-kata atau ucapan ayah Mirza Ghulam tentang darah Moghol, menjadi lemah atau gugur!

Seringkali ditemukan dalam ucapan-ucapan tokoh-tokoh Ahmadiyah adanya pertentangan satu dengan yang lain. Bahkan kadangkala seorang pimpinan Ahmadiyah berkata tentang sesuatu hal atau masalah, di lain kesempatan orang tersebut merubah atau mengganti ucapannya yang semula. Misalnya dari ucapan-ucapan khalifah kedua Ahmadiyah, Bashiruddin Mahmud Ahmad; Mula-mula ia berkata bahwa perkataan "Mirza" pada nama ayahnya, menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah dari keturunan Moghol. Akan tetapi di lain kesempatan ia berkata:

"Perkataan "Mirza" di dalam namanya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. menunjukkan bahwa beliau a.s. adalah keturunan orang Parsi". [8]

Pernyataan Bashir yang bertentangan itu telah menimbulkan keragu-raguan; Bagaimana ia bisa berkata bahwa perkataan Mirza pada nama ayahnya, adalah untuk menyatakan keturunan dari Moghol, akan tetapi di lain kitab ia menyatakan bahwa perkataan Mirza adalah menyatakan keturunan dari Parsi?!

Jelas bahwa ucapan-ucapan Bashiruddin tersebut tidak beres. Akan tetapi bagi Ahmadiyah hal-hal seperti itu mudah diselesaikan, bahkan dengan cara-cara yang sangat sederhana. Jika Bashir mula-mula menyatakan bahwa Mirza adalah keturunan Moghol, kemudian ia menyatakan di lain kitab bahwa Mirza adalah keturunan Parsi, maka Ahmadiyah menjelaskan:

"Adapun Mirza adalah nama kepangkatan dan suku dari nenek-moyang beliau. Beliau adalah keturunan Parsi dan keturunan Bangsawan" [9]
Di sini Ahmadiyah membuktikan bahwa Mirza Ghulam Ahmad memiliki dobel keturunan, Moghol dan Parsi.

Untuk membereskan makna dobel keturunan, maka Ahmadiyah menegaskan lagi:
"Pendiri Jema’at Ahmadiyah, Hadrat Mirza Ghulam Ahmad, berasal dari keluarga terhormat. MIRZA adalah gelar yang biasa diberikan kepada kaum ningrat keturunan raja-raja Islam dinasti Moghol berasal dari Parsi". [10]

Demikianlah cara pemberesannya; raja-raja Islam dinasti Moghol yang berasal dari Parsi. Dengan susunan kalimat yang demikian, maka kesulitan yang terdapat pada dua buah tulisan Bashir yang berbeda telah terpecahkan.

Lebih jelas lagi ialah, bahwa keturunan dalam darah yang mengalir dalam tubuh pendiri Ahmadiyah itu, hanyalah darah Moghol saja. Sedangkan keturunan Parsi yang dimiliki Mirza Ghulam tidak lain kecuali tempat, domisili, dimana kakek-kakeknya tinggal berdiam. Dengan kata lain, Mirza Ghulam Ahmad keturunan Moghol dari Parsi.

Namun demikian Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya lebih mengutamakan tempat asal kakek-kakeknya daripada darah yang mengalir dalam tubuh mereka. Parsi lebih penting dari Moghol, sebab di dalam Parsi itulah kepentingan Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya, terletak. Dari keturunan Parsi terletak makna dan arti maupun tujuan dari sebuah Hadits, yaitu pada saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sambil menaruh tangan beliau kepundak sahabat Salman Al Parisi, bersabda:
"Sekiranya keimanan menggantung di bintang surya, niscaya akan dicapai oleh laki-laki dari Parsi".

Mirza Ghulam Ahmad berkeyakinan bahwa yang dimaksud dan dituju dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak lain ialah untuk dirinya., karena dialah anak Parsi itu. Bahkan Tuhannya memberi wahyu padanya:

"Pegang teguhlah iman itu wahai anak Parsi” [11]

Sudah jelas bahwa Mirza Ghulam dan alirannya bertekad sebagai yang empunya hak mutlak atas sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut. Benarkah mereka yang berhak? Benarkah Mirza Ghulam Ahmad yang dituju sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

Padahal Mirza Ghulam Ahmad bukan keturunan Parsi, ia keturunan Moghol. Lebih-lebih lagi ia kelahiran India, berdomosili di India. Bahkan ayahnya maupun kakek-kakeknya sampai pada Hadi Beg kakeknya yang keduabelas itu, berada di India. Abad enam belas Masehi mereka sudah di Hindustan; Sudah hampir tiga ratus tahun kakek-kakek Mirza Ghulam berurat berakar di India. Tigaratus tahun jauh dari cukup untuk memberi titel pada ayah dan Mirza Ghulam Ahmad maupun pada kakek-kakeknya sebagai pribumi India. la harus dipanggil, tidak dengan panggilan "ya ibna Al Faras"melainkan dengan panggilan "ya ibnul Hind" wahai anak Hindustan.

Cara-cara yang ditempuh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya dengan mengambil Hadits tersebut di atas buat mereka, jelas merupakan pengingkaran terhadap sejarah serta memutar balikkan makna dan tujuan yang sebenarnya dari Hadits tersebut.

Tidaklah perlu menunggu sampai 1200 tahun kemudian serta memilih negeri India sebagai tempatnya, untuk menemukan maupun menunjuk orang yang dimaksud dan dituju dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut. Justru pada. saat-saat itulah dan di tempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, makna dan tujuan dari ucapan Beliau terletak adanya.

Sahabat Salman Al-Farisi mempunyai kisah hidup yang unik serta mengagumkan. Dalam pengembaraannya mencari serta menemukan iman Tauhid, putera Parsi yang orisinil ini, pergi meninggalkan tanah tumpah darahnya Parsi, pergi jauh sampai ribuan mil, melalui proses perpindahan kepercayaan dari agama syirik menyembah api (Zarahustra) pada agama syirik menuhankan Isa Al Masih (Kristen) dan akhirnya sampai pada Agama Tauhid yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Ketabahan, gairah, tekad, dan revolusi yang bergolak dalam jiwa Salman Al-Farisi, mencari kepuasan iman, ketentraman bathin dan sekaligus menemukannya pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, telah mendapat pujian langsung dari Nabi sendiri, lewat sabda Beliau di atas. Bahkan Salman Al-Farisi, telah memperoleh kedudukan istimewa; Siapa sangka bahwa musafir dari ribuan mil ini, telah memperoleh derajat "termasuk dari ahli bait Nabi" serta mendapat jaminan surga dari junjungannya?.

IA TELAH DI-FIRMANKAN
Maka apa yang telah dilakukan Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya mendominir hadits demi kepentingan untuk memperoleh pegangan guna memperkuat dirinya, akan selalu dijumpai dalam setiap obrolan Ahmadiyah. Sampai-sampai pada ayat-ayat Al Qur’an, tidak terlepas dari pemakaian Mirza Ghulam menurut cara dan selera mereka. Jelasnya, menggunakan dasar Al Qur’an dan Hadits untuk mengukuhkan pegangan dengan jalan mengartikan dan mentafsirkan menurut kepentingan dan selera mereka, adalah watak khas serta hoby yang menyolok yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, puteranya, pengikut-pengikutnya maupun alirannya. Kitab-kitab mereka sendiri yang membuktikan ciri-ciri khas itu.

Beralih kini pada urutan yang ketiga atau yang terakhir dari nama pendiri Ahmadiyah, yakni nama AHMAD, maka untuk nama inilah, Mirza Ghulam, puteranya dan alirannya telah membuat suatu surprise yang tidak tanggung-tanggung, interessant dan istimewa: “Jauh daripada nama Mirza, nama AHMAD ini merupakan kebanggaan bagi yang empunya maupun bagi pengikutpengikutnya. Menurut puteranya, Bashiruddin Mahmud Ahmad, bahwa acapkali beliau (mirza) suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka waktu menerima bai’at dari orang-orang beliau hanya memakai nama Ahmad.

Dalam ilham-ilham acapkali Allah Subhanahu wa Ta’ala suka memanggil kepada beliau dengan nama Ahmad juga”. [12]

Bagaimana dengan yang empunya nama, Mirza Ghulam? Dengan perasaan bangga akan namanya ia berkata:
"Bahwasanya Allah sendirilah yang memberi nama Ahmad, padaku, ini sebagai pujian untukku di bumi serta di langit "’ [13]

Kendatipun kisah atau cerita pemberian nama itu tidak ada, namun itu tidak berarti bahwa pemberian nama dari Tuhan tersebut tidak mempunyai bukti. Justru yang paling berkesan serta meyakinkan, dibuktikan dengan tandas oleh Mirza Ghulam Ahmad dan alirannya.

Adapun bukti yang ditunjukkan itu bukan terjadi pada saat-saat Mirza Ghulam dilahirkan, melainkan pada saat-saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima wahyu! Jelasnya, 1200 tahun sebelum kelahiran Mirza Ghulam Ahmad, nama AHMAD yang dimilikinya itu, sudah disebut-sebut Allah dalam KitabNya, Al Qur’an Al Karim pada surah Ash Shaf ayat 6, sebagai AHMAD yang DIJANJIKAN. [14]

Lebih serius lagi, dari ulasan Ahmadiyah ialah, bahwa pangkat yang terdapat pada nama Ahmad dalam surah Ash Shaf itu, yakni pangkat Rasul, adalah juga milik Mirza Ghulam!! Berkata Ahmadiyah :

"Jika orang benar-benar meneliti maksud Al Qur’an itu (surah 61:6) maka akan mengetahui, bahwa yang dimaksud dengan nama AHMAD bukanlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi seorang RASUL yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada akhir zaman sekarang ini. Bagi kami ialah: Hazrat (Mirza Ghulam) AHMAD Al-Qadiani".[15]

Demikian tafsir dan makna surah Ash Shaf ayat 6 yang diolah seenak perut dan hawa nafsu Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya!!

Akhirnya dengan ucapan yang meyakinkan, Ahmadiyah dengan lantang berkata:
"Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksud Rasul Ahmad dalam surah Ash Shaf ayat 6 tersebut adalah pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s."[16]

Inilah dia, obrolan-obrolan Mirza Ghulam dan para pengikutnya; mereka seringkali menonjolkan watak-watak Yahudinya dengan Yuharrifu nal kalimah ‘an mawadi’ih, bermain sulap, awut-awutan, jungkir balik, tamak dan rakus di dalam mengartikan maupun menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an serta Hadits.

Alasan-alasan yang digunakan Ahmadiyah untuk menguasai nama Ahmad dalam surah Ash Shaf itu, seolah-olah kelihatannya masuk akal; akan tetapi kalau diteliti dengan seksama, maka mereka hanya memaksakan agar makna maupun tafsir dari ayat 6 surah Ash Shaf itu, dikhususkan pada Mirza Ghulam Ahmad saja. Dengan kata lain, Ahmadiyah menafsirkan maupun mengartikan ayat-ayat Al Qur’an, menurut jalan pikiran mereka dan menurut kepentingan mereka. Sebagai alasan mengapa ayat 6 Ash-Shaf itu untuk Mirza, Ahmadiyah berkata:

"Memang dalamAl-Quran surah 61:6 tertulis nama Ahmad. Tidak mungkin nama itu digunakan bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena disitu tertulis tanda-tanda dan kejadian-kejadian yang lain, terangnya seperti di bawah ini :

1.Wa huwa yud’a ilal Islam = dan dia (Ahmad) dipanggil (oleh orang-orang yang mengaku dirinya Islam) supaya kembali kepada agama Islam. Mengapa demikian? Mereka menganggap bahwa Hazrat Ahmad a.s. itu sudah kafir- nauzubillah -, disebabkan mengaku dirinya sebagai nabi. Marilah kita perhatikan: Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkewajiban memanggil ummat dunia kepada Islam (lih. 61 :8), tetapi pada ayat tersebut malah mereka itulah (baca: ummat Islam) yang memanggil Ahmad, supaya kembali kepada Islam.

2.Yuriduna li yuthfiu nurullahi bi afwahihim: mereka itu (baca: seluruh ummat manusia di dunia sekarang ini) ingin benar memadamkan cahaya Allah Ta’ala dengan mulutnya. Pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memusuhi Agama Allah (Islam) menghunus pedang, tetapi pada akhir zaman ini, yang melawan dan menghantam Islam tidak dengan pedang lagi, melainkan dengan "propaganda", dengan alat-alat modern, radio dan tulisan-tulisan. Ingatlah pula lidah lebih tajam lagi dari pedang.

3.Huwalladzi arsala rosulahu bilhuda wa dinil haqqi liyuzhhirahu ‘ala dini kullihi : Dia, Tuhan itulah yang mengirim Rasulnya dengan petunjuk, agar dapat ia (Ahmad) memenangkan agama Allah atas segala agama-agama. Terlaksananya ayat ini, hanya di suatu zaman, dimana pergaulan dunia antara agama dengan agama semuanya, menjadi lebih dekat, jarak antara benua dengan benua itu seakan-akan dekat, semuanya disebabkan alat-alat teknik yang modern tadi, bahkan antara bangsa dengan bangsa kini sudah dapat disatukan (PBB), atau bila dengan alat ialah : radio dan pesawat terbang. Bila kita mau menganalisa semuanya ini, mustahil bisa terkecoh lagi" [17]

Demikianlah ocehan-ocehan Ahmadiyah mempropagandakan alasan-alasan apa sebab Mirza Ghulam yang menjadi pemilik mutlak nama Ahmad di dalam Al Qur’an. Ditambah lagi dengan ocehan tafsir yang berlagak berani memperkosa ayat-ayat Allah, maka jelas tidak seorang mufassirpun yang berani berbuat demikian, kecuali mufassir-mufassir Ahmadiyah yang serba awut-awutan.

Berbicara tentang ayat 7 dari Surah Ash-Shaf tersebut, dimana sebagian dari ayat yang tersurat: wa huwa (dan dia) diajak pada Islam, telah digunakan oleh Ahmadiyah sebagai landasan untuk menguatkan hak milik Mirza Ghulam akan nama Ahmadnya itu, maka untuk mengetahui yang sebenarnya dari Firman Allah tersebut, haruslah diketahui keseluruhan ayat-ayatnya.Tidak boleh melepaskan kaitannya yang erat dengan ayat-ayat sebelumnya. Pada bagian akhir dari ayat 6 surah Ash Shaf tersebut (artinya):

"Maka tatkala Rasul itu datang pada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata".

dilanjutkan kemudian dengan ayat 7 dari surah yang sama, tersebut (artinya):
"Dan .siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, pada saat mana ia diajak pada agama Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang aniaya".

Maka jelas sekali di situ bahwa huwa (ia) adalah orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah pada saat ia diajak oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Islam. Dan bukan seperti yang diulas Ahmadiyah, bahwa huwa (ia) adalah Ahmad Mirza Ghulam yang diajak pada Islam oleh orang-orang Islam yang menuduhnya kafir. Ini hanya silatan lidah dan sulapan mata yang dibuat oleh mufassir-mufassir Ahmadiyah.

Contoh yang mirip dengan ayat 7 Ash Shaf tersebut ialah pada surah Az Zumar ayat 32 ialah :

"Maka siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika sampai padanya? Bukankah dalam neraka tempat tinggal orang-orang kafir ?"

Ayat, ketika sampai padanya ialah, ketika sampai kebenaran yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam padanya (huwa), maka ia mendustakan ayat-ayat Allah itu. Demikianlah tafsir maupun makna yang benar.

Alasan yang kedua yang dipakai Ahmadiyah bagi landasan pegangan Mirza untuk memiliki nama Ahmad ialah ayat: yuriduna li yuthfi’u nurullahi bi afwahihim. Ahmadiyah mengatakan, bahwa seluruh ummat manusia di dunia sekarang ini ingin benar memadamkan cahaya Allah dengan mulutnya, sedang pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memusuhi Agama Allah (Islam) menghunus pedang. Akhir zaman ini yang melawan dan menghantam Islam tidak dengan pedang lagi, melainkan dengan propaganda. Dan ingatlah bahwa lidah lebih tajam dari pedang. Demikian ulasan Ahmadiyah dari ayat tersebut di atas.

Inilah bukti kerabunan mata dan kekerdilan pikiran sesat mufassir Ahmadiyah. Mereka terang-terangan menutupi peristiwa-peristiwa sejarah Nabi, ataupun mereka sedang bersilat lidah dan mencoba membodohi ummat manusia dengan ocehan-ocehan tafsirnya itu. Apakah benar pada akhir zaman ini yang melawan dan menghantam Islam tidak dengan pedang lagi?! Apakah benar pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memusuhi Agama Allah tidak dengan mulut pula?!

Pertanyaan yang pertama sudah terjawab kedustaannya, bahwa orang-orang kafir tetap ada yang berhadapan dengan kaum muslimin dengan bersenjatakan pedang, tetapi yang kedua, karena berhubungan dengan obrolan Ahmadiyah tentang nama Ahmadnya Mirza Ghulam, akan dijawab berdasarkan beberapa ayat dari Al Qur’anul Karim.

Ayat 78 surah Ali-Imran: "Di antara mereka ada segolongan yang memutar-balikkan lidahnya dengan membaca al Kitab, supaya kamu kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari al Kitab, padahal bukanlah ia dari al Kitab, dan mereka berkata: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”.

Ayat 33 surah Al-An`aam: "Sesungguhnya Kami mengetahui, bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka itu tiada mendustakan engkau, akan tetapi orang-orang yang aniaya itu mengingkari ayat-ayat Allah".

Surah Al-A`raf ayat 177: "Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat aniaya".

Surah At-Taubah ayat 65: "Jika engkau bertanya pada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), niscaya mereka menjawab: Sesungguhnya kami hanyalah bersendagurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?”

Bagian akhir dari ayat 2 surah Yunus : "Orang-orang kafir berkata: Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah ahli sihir yang nyata".

Surah Yunus ayat 65: "Janganlah engkau berduka cita karena mendengarkan perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu bagi Allah semuanya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “

Surah Al-Anfal ayat 31 : "Apabila dibacakan ayat-ayat Kami kepada mereka lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), jika kami menghendaki niscaya dapat pula kami membacakan yang seperti ini. (Al Qur’an) ini tidak lain melainkan dongengan-dongengan orang-orang dahulu kala".

Surat Al-Anbiya’ ayat 5: "Bahkan mereka berkata: (Qur’an ini) mimpi yang kacau balau. Bahkan diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang ahli syair. Sebab itu hendaklah dia mendatangkan satu ayat (mu’jizat) buat kami, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus".

Surat. Ash Shaffaat, ayat 14/15: "Apabila mereka melihat ayat (tanda kebesaran Allah) mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata: “Ini tiada lain melainkan sihir yang nyata".

Surat Shaad ayat 4: "Dan mereka heran karena datang pada mereka pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan berkata orang-orang kafir: “Orang ini tukang sihir lagi pendusta".

Surat Az-Zukhruf ayat 7: "Dan tiadalah seorang Nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkan".

Demikianlah, masih banyak lagi ayat-ayat Allah yang mengetengahkan cara-cara kaum musyrikin hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulutnya. Sesungguhnya omongan mereka itu, keji hina, nista, jahat dan fitnah-fitnah mereka lebih biadab daripada pembunuhan.

Maka para mufassir Ahmadiyah pada kenyataannya buta atau sengaja hendak mengelabui ummat dengan mulut-mulut kotor mereka. Jelas bahwa orang Ahmadiyah mengingkari ayat-ayat Al Qur’an dan mengingkari sejarah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Lebih daripada itu, Ahmadiyah mengingkari sejarah perjuangan kaum Muslimin pada akhir zaman, dengan kata-kata mereka: “Bahwa yang melawan dan menghantam Islam akhir zaman ini, tidak lagi dengan pedang!

Alasan ketiga yang dipakai oleh Ahmadiyah untuk mengukuhkan Mirza Ghulam sebagai pemilik sutu-satunya atas nama Ahmad dari surat. Ash-Shaf itu, ialah ayat: Huwalladzi arsala rasulahu bilhuda wa dinil haqqi liyuzhhirohu ‘ala dini kullihi.

Ahmadiyah mengartikan ayat tersebut bahwa Dia Tuhan itulah yang mengirim Rasul-Nya dengan petunjuk, agar ia (AHMAD) dapat memenangkan agama Allah atas segala agama-agama.

Dengan kata lain, Ahmadiyah meyakinkan kita bahwa Mirza Ghulam (Ahmad)lah pendiri Ahmadiyah itu yang akan memenangkan Islam di atas segala Agama!

Apakah benar demikian? Jika alasan-alasan yang sebelumnya, Ahmadiyah telah menyalahgunakan ayat-ayat Al Qur’an, maka alasan yang terakhir ini tentu saja dibuat sedemikian rupa lewat ocehan-ocehan mereka yang agar kaum Muslimin terkecoh. Kelak ocehan-ocehan mereka itu akan terlihat bentuknya.

AHMAD TERAKHIR
Berbicara tentang nama AHMAD dalam surat Ash Shaf ayat 6, dimana tersirat di dalamnya ucapan Nabi lsa ‘Alaihis Salam yang menyampaikan kabar gembira (mubasysyiran) tentang datangnya seorang Nabi di kemudianku (mim ba’di ismuhu) yang bernama AHMAD, tidak lain yang dituju dari ucapan beliau ‘Alaihis Salam itu adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ucapan Nabi lsa ‘Alaihis Salam dengan kata-kata "di kemudianku" itu, tidak akan meloncati seorang Nabi yang benar-benar datang tepat sesudah beliau. Lebih-lebih lagi, dan inilah yang harus menjadi perhatian, bahwa Al Qur’an adalah Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan demikian beliaulah orang pertama yang mengetahui akan makna tujuan serta seluruh yang tersirat dalam ayat-ayat Allah. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Pesuruh Allah yang menyampaikan kabar gembira dan kabar takut (basyiiran wa nadziiran) pada umat manusia, tidak akan menyembunyikan sesuatu kabar dari Allah seperti yang tersurat dalam Al Qur’an surah Ash Shaf ayat 6 itu.

Jika surat itu memang ditujukan pada seorang AHMAD dari INDIA dari desa QADIAN, maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pasti dan pasti akan mensabda-kan kedatangannya, kelak sepeninggal beliau. Juga para sahabat Nabi, para Tabi’in maupun yang sesudahnya akan menyebut "milik siapa Ahmad" pada surah Ash Shaf itu. Tetapi memang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah bersabda demikian, tidak juga para sahabat maupun tabi’in sampai kemudian seorang dajjal pendusta dari India yang bangun kesiangan telah mendapatkan ilham-ilham setan dan mengaku menjadi pewaris sah kenabian!!

Jelaslah kiranya bahwa cara-cara yang dipakai Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya mencapai konklusi yang terang di sini, bahwasanya aliran Qadiani dan pendirinya itu telah melakukan penghinaan terang-terangan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!

Mereka sebenarnya telah melecehkan tugas suci yang dipikul Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah menerima wahyu kebenaran, menyampaikan serta menegakkannya; Tingkah laku maupun cara-cara yang demikian itulah yang paling disebar-sebarkan Ahmadiyah dalam kitab-kitab mereka.

Yang haq atas nama AHMAD dalam surat Ash Shaf ayat 6 itu, ialah seorang yang menerima wahyu Qur’an itu sendiri, AHMAD MUHAMMAD Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ribuan tahun sebelum beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memangku jabatan Rasul dan Nabi yaitu tatkala Nabi Musa ‘Alaihis Salam diutus oleh Allah untuk bani Israil, tersebut dalam sebuah do’anya, beliau ‘Alaihis Salam memohon :

"Ya Allah jadikanlah hamba sebagai pengikut AHMAD".[18]

Kemudian shahabat Salman Al-Farisi tatkala berada di Baitu l Maqdis, beliau mendengar dari seorang rahib, yang berkata padanya:

"Wahai Salman, sesungguhnya Tuhan sedang mengutus seorang Rasul bernama AHMAD, ia mau makan dari pemberian hadiah, akan tetapi ia menolak atas pemberian sedekah. Di antara pundaknya terdapat tanda dari khataman Nubuwah. Ketahuilah wahai Salman, bahwa saat-saat sekarang inilah kedatangannya". [19]

Dan dalam sebuah Hadits yang diiiwayatkan oleh Imam Malik, Darimi, Tirmidzi, An-Nasa’i, Bukhari dan Muslim, dari Jabir ibn Muth’am, beliau ‘Alaihis Salam bersabda :

"Padaku ada beberapa nama-nama. Aku bernama Muhammad, aku bernama AHMAD, Al Mahi (yang menghapuskan) kekafiran, Al-Hasyir (yang mengumpulkan) ummat di bawali naunganku, dan Al Aghib (yang penghabisan) dimana tidak ada Nabi sesudahku".

Demikianlah tentang nama Ahmad dalam surah Ash Shaf ayat 6.

Adapun yang dipakai alasan oleh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya, baik Hadits maupun Al Qur’an, hanyalah suatu penipuan belaka. Tidak sepotong ayatpun dalam Al Qur’an yang menyebut-nyebut nama Mirza Ghulam, juga tidak sebuah Haditspun. Jika memang ada, maka Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnyalah yang mengada-adakan. Bahkan andaikata ada sebuah nama Ahmad kiriman Tuhan yang ditujukan pada Mirza Ghulam, maka itu adalah kiriman yang datang dari Tuhannya Mirza. Sebab ia rupa-rupanya memiliki Tuhan yang khas yang hanya menjadi miliknya. Kelak akan dijumpai dalam beberapa kitab-kitab Ahmadiyah, Tuhan spesifik milik Mirza Ghulam itu.

SETUMPUK ASAL-USUL.
What is in a name? Untuk apa Mirza maupun Ahmadiyahnya memberi embel-embel, komentar terhadap namanya dengan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits? Andaikata Mirza Ghulam tidak berbuat itu semua, maka segala kepalsuannya tidak secepat itu ditemukan. Tetapi apa boleh buat, mungkin dikiranya alasan-alasan itu yang mendukung sepenuhnya, bahkan yang bisa diterima kaum Muslimin di luar alirannya. Padahal justru alasan-alasan itulah yang akan membongkar kedok kepalsuannya. Demikian juga pada hal-hal lain yang digunakan Ahmadiyah dan pendirinya, selalu dijumpai sikap-sikap yang ceroboh dan menggelikan.

Pun juga nama-namanya dari hasil keturunan kakek-kakeknya, maka yang inipun tidak kurang hebatnya. Sebagaimana diketahui bahwa dari pihak ayah dan kakek-kakeknya, Mirza Ghulam merangkap dua keturunan, yaitu keturunan Moghol dan keturunan Parsi.

Akan tetapi yang lebih menarik dari hal keturunan Mirza ini, ialah dari pihak ibunya maupun nenek-neneknya. Meskipun Mirza Ghulam jarang bahkan hampir tidak pernah menyebut-nyebut nama ibunya maupun nama nenek-neneknya apalagi membanggakannya, namun demikian ternyata mereka memegang posisi yang menentukan di dalam karier Mirza Ghulam. Justru keturunan mereka itulah yang lebih mantap bagi Mirza Ghulam untuk meletakkan dirinya pada kedudukan yang paling interes dan jempolan.

Ternyata, keturunan Mirza dari pihak ibunya lebih baik, bahkan lebih istimewa dibanding dengan keturunan dari pihak ayahnya. Mula-mula Mirza Ghulam membantah dengan tegas bahwa ia dari kaum Turky. [20]

Kembali pada keturunan dari pihak ibunya, Mirza Ghulam Ahmad ternyata mempunyai keistimewaan yang tidak tanggung-tanggung. Dengan bangga ia berkata dalam Khutbatul Ilhamiyah:

"Ketahuilah, bahwasanya Al Masih Al Mau’ud itu datangnya dari golongan QUREISY, sebagaimana Isa datangnya dari Bani Israil". [21]

Tahukah anda apa Khutbatul Ilhamiyah itu? Ahmadiyah menjelaskan:
Pada tahun 1902 itu juga, dalam kesempatan hari raya Idul Adha, Hazrat Ahmad as. telah menyampaikan khutbah yang langsung berisikan ilham-ilham Ilahi dalam bahasa Arab yang sangat fasih. Sewaktu berpidato itu keadaan beliau sangat lain. Wajah beliau as. menjadi merah dan memancarkan cahaya serta kegagahan. Tampak seolah-olah beliau as. berada dalam keadaan bawah sadar. Khutbah itu sangat halus dan bahasanya juga sangat bagus, sehingga banyak orang yang pandai bahasa Arab pun tidak sanggup mengarang yang demikian. Apalagi isinya pun mengandung hikmah serta rahasia-rahasia yang menakjubkan akal pikiran manusia.
Khutbah ini seluruhnya di dalam bahasa Arab, dan telah dicetak dalam bentuk buku yang berjudul Khutbah Ilhamiyah. [22]

http://img111.imageshack.us/img111/8671/khutbahilhamiyahzy7.jpg

Demikianlah, Mirza Ghulam dan Ahmadiyah meyakini telah menerima ilham (baca:wahyu) langsung dari tuhannya dengan gelar kepangkatan Al Masih Al Mau’ud, yang dimaksud ialah Pendiri Ahmadiyah itu sendiri, Mirza Ghulam. [23]

Ia memperoleh gelar itu, dan banyak lagi gelar-gelar yang ia peroleh dari Tuhannya. Lebih meyakinkan lagi tentang keturunan Qureisynya, Mirza Ghulam Ahmad berkata yakin:
"Adalah suatu keharusan bahwa Khalifah ini dari keturunan Qureisy". [24]

Gelar khalifah inipun termasuk milik Mirza Ghulam Ahmad.

Satu persatu dari gelar-gelarnya akan dikenal nanti. Demikianlah pendakian telah sampai ke puncaknya. Keturunan QUREISY pada diri Mirza Ghulam Ahmad merupakan target terpenting dari planningnya.

Sambil bertepuk dada ia berkata: "Ketahuilah siapa aku ini! Jika kamu abaikan maka akan kau hadapi kerugian-kerugian dalam hidupmu".

Qureisy mungkin masih agak luas ruang lingkupnya, karena ia masih terdiri dari keluarga-keluarga besar. Maka tidak salah lagi jika Mirza Ghulam Ahmad maupun Ahmadiyahnya memilih satu keluarga saja di dalam satu rumah yang paling mulia dan dimuliakan manusia. Dengan perasaan bangga ia berkata:

"Sesungguhnya akulah Al-Mahdi itu, juga Al Masih Mau’ud, dimana kedudukannya sudah jelas bahwa untuk jabatan kedua pangkat ini harus dipegang oleh seorang dari Bani Fatimah". [25]

Apa sebab Mirza memilih Bani Fatimah untuk melengkapi dirinya? Tidak lain, karena ia akan mengambil alih sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

"Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, aku telah mendengar Rasul Allah bersabda: Mahdi itu dari anak cucuku, dari anak Fatimah".

Maka Mirza Ghulam Ahmadlah yang menyatakan diri sebagai anak dari anak-anak Fatimah Radhiyallahu ‘anha. Kemudian dengan lantang sekali lagi ia berkata :

"Daripada kakek-kakekku, aku ini keturunan Parsi, sedang daripada nenek-nenekku aku ini keturunan Fatimah. Maka bergabunglah pada diriku dua kemuliaan". [26]

Jika hanya dua kemuliaan saja, tentu bagi Ahmadiyah masih kurang. Harus ditambah lagi kemuliaan yang di atas segala-galanya. Last but not least inilah kemuliaan-kemuliaan itu. Mirza berkata :

Daripada Tuhanku, telah turun wahyu padaku, bahwa dari pihak nenek-nenekku, aku ini keturunan Fatimah ahli baitin nubuwah.

Demi Allah, telah bersatu pada diriku Nasl (keturunan) Nabi ISHAQ dan nasl (keturunan) Nabi ISMAIL".[27]

Bagaimana Mirza Ghulam Ahmad mengaku menjadi anak-cucu Nabi Ishaq ‘Alaihis Sallam? Apakah benar ia keturunan Nabi Ishaq? Mungkin ada yang tidak beres di sini, dan yang tahu persis bahwa Mirza tidak beres, adalah dirinya sendiri.

Akan tetapi kalau Ahmadiyah mengatakan bahwa itu benar dan tidak ada yang perlu dibereskan, maka kita ucapkan ahlan pada Mirza. Dengan nasl Ishaqnya itu, maka orang boleh berkata pasti, bahwa Mirza Ghulam Ahmad juga keturunan YAHUDI! Nah bergembiralah ya Mirza Israeli.

Demikianlah keturunan-keturunan istimewa milik pendiri Ahmadiyah.

Satu lagi keturunan yang tidak boleh diabaikan, juga hak milik Mirza Ghulam Ahmad yakni negeri dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, INDIA, juga merupakan salah satu dari keturunan-keturunan yang ia miliki. Ahmadiyah menjelaskan bahwa dalam buku agama Hindu (yang mana?) ada tersebut bahwa Messiah yang dijanjikan itu adalah orang INDIA.[28]

Akhirnya, demikian Bashiruddin Mahmud Ahmad menutup cerita tentang identitas ayahnya, berkata :
"Maka sempurnalah sudah apa yang telah termaktub dalam kitab-kitab Ummat Parisi, Ummat Nasrani, Ummat Islam dan Ummat Hindu tentang datangnya Al Masih yang ditunggu-tunggu zaman, yaitu MIRZA GHULAM AHMAD".[29]

Itulah bunyi gong Bashiruddin; orang-orang Ahmadiyah tentulah merasa bangga terhadap kedudukan maupun keturunan yang dimiliki pemimpinnya. Andaikata semua keturunan-keturunannya disandangkan di belakang namanya, maka millah dia adalah: Mirza Ghulam Ahmad AL MOGHOLI, AL PARISI, AL QUREISY, AL FATIMI ahli Baitin Nubuwah dan AL ISRAELI dan lagi AL HINDUSTANI.

Sungguh suatu keistimewaan yang menggelikan bulu kuduk ayam jantan!

KUNING LANGSAT BUKAN KEMERAH-MERAHAN.
Sesudah kita ketahui sejumlah nama maupun keturunan-keturunan kakek moyang Mirza Ghulam Ahmad, maka agar lebih sempurna lagi jika kita kenal lebih jauh identitas lahiriyahnya. Dalam hal ini. perihal warna atau kelir kulit Mirza Ghulam Ahmad mustahaq untuk diketahui dan dibicarakan di sini. Sebabnya tidak lain ialah karena orang-orang Ahmadiyah merasa bangga akan kelir kulit pemimpinnya itu. Ahmadiyah menjelaskan bahwa dalam beberapa Hadits diterangkan:

"Kelir kulit yang mulia Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah PUTIH, Kulit yang mulia Nabi Isa ‘Alaihis Salam adalah KEMERAH-MERAHAN. Kulit yang mulia Nabi AHMAD a.s (Al Masih, II) adalah KUNlNG LANGSAT".[30]

Yang dimaksud dengan yang mulia Nabi Ahmad a.s., tidak lain ialah Mirza Ghulam Ahmad. Dikemukakan oleh Ahmadiyah bahwa ada beberapa Hadits yang menerangkan

tentang kelir kulit-kulit ke tiga Nabi di atas itu. Manakah beberapa Hadits itu? Cukup kiranya sebuah saja dikemukakan di sini, maka Ahmadiyah akan tertolong dirinya dari kecerobohan-kecerobohannya yang menggelikan.

Lebih lanjut Ahmadiyah menambahkan, bahwa kalau Nabi Isa ‘Alaihis Salam itu kulitnya kemerah-merahan sedangkan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. itu kulitnya kuning langsat, itu merupakan satu bukti yang menggelorakan segenap punggung-punggung Ahmadiyah bahwa Al Masih yang datang kedua kalinya itu bukanlah Al Masih putera Maryam Radhiyallahu ‘anha yang dulu itu. Sebab seandainya Nabi Isa ‘Alaihis Salam yang dulu itu datang kedua kalinya di dunia ini selaku Al Masih II, pastilah Almasih II itu kulitnyapun kemerah-merahan, bukan kuning langsat. [31]

Demikian salah satu alasan dari seribu satu macam alasan yang dipakai Ahmadiyah untuk memahkotai Mirza Ghulam dengan gelar Al Masih kedua.

Berbicara tentang warna kulit manusia di atas dunia ini, maka warna "kuning langsat" itulah yang lebih menarik bagi orang-orang Asia khususnya. Memang demikian, justru itulah kulit yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, benar-benar menggelora! Seorang cucunya berkata tentang kakeknya itu:

‘"Bahwasanya Mirza Ghulam Ahmad termasuk dalam golongan yang paling elok". [32]

Begitu eloknya dia, wahai siapa pula yang tidak akan jatuh hati padanya?! (Tapi siapa sangka nantinya (di artikel ke IV, insya Allah) kita akan menyaksikan bahwa nabi palsu yang elok rupawan ini justru yang jatuh hati kepada seorang dara, dan hati Mirza Ghulam Ahmad semakin jatuh berdebam-debam di tanah sesakit dipatuk-patuk ayam karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Siapa orangnya yang begitu tega melepas kesempatan emas untuk dinikahi sang nabi palsu dari India? Yang pasti, gadis itu tidak tergiur sedikitpun kavling kuburan surganya Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya!)

LAMPU ALADIN DI TANGAN MIRZA
Sudah tentu yang jatuh hati padanya adalah puteranya Bashiruddin, cucu-cucunya dan orang-orang yang buta hati dan buta pikiran sehatnya. Kepalsuan yang begitu kentara ternyata dapat disulap-sulap menjadi elok dan bergelora berkat propaganda-propaganda obralan dan pakaian-pakaian kebesaran murahan yang menyolok menyakitkan mata.

Keistimewaan Mirza Ghulam Ahmad yang explosiv itu bukan hanya terdapat pada nama-nama keturunan-keturunan maupun kelir kulitnya, bahkan jauh daripada itu, lebih banyak dan lebih istimewa lagi terdapat pada pangkat-pangkat, gelar-gelar maupun jabatan-jabatan yang menjadi miliknya.

Bukan kepalang-tanggung hebatnya, tidak seorang Nabi maupun seorang Rasulpun sebelum Mirza Ghulam yang memperoleh kedudukan begitu tinggi, begitu mulia, dan begitu banyak seperti yang pernah diperoleh Mirza Ghulam Ahmad. Bahkan lebih tinggi plus lebih mulia dari Yesus Kristus yang dianak Tuhankan oleh kaum Kristen.

Letak kehebatannya ialah, bahwa semua milik Mirza Ghulam Ahmad diperoleh langsung dari Tuhannya. Maka marilah diperkenalkan orang Qadian yang superior ini. Mirza Ghulam Ahmad mendapat julukan Pelindung "telur" Islam. [33]

Tidak dijelaskan mengapa Islam dikiaskan dengan telur? Setidak-tidaknya telur gampang sekali retak atau pecah. Alangkah lemahnya kondisi Islam sehingga dikiaskan sebagai telur belaka dan Mirza Ghulam Ahmad adalah orangnya, pelindung dari keretakan dan pecah itu, ataukah ia yang mengerami dan sekaligus yang menetaskan telur itu?!

Beralih pada gelar-gelarnya yang lain, Mirza Ghulam dikatakan sebagai penjaga kebun Allah. [34]
Mungkin yang dimaksud kebun di situ adalah Islam atau surga? Pendek kata demikian

Bagi Ahmadiyah, pribadi Mirza Ghulam Ahmad itu patut dihormati sebab ia berkhasiat sebagai "kibriti ahmar" [35] Oleh wujudnya itu maka nampaklah kehidupan agama Islam.

Selanjutnya Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid akbar, [36] kepaia dari semua pembaharu yang dikirim ke aunia untuk memperbaharui Islam yang di dalam akidah-akidahnya telah terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi. Bahkan lebih dari pada mujaddid akbar, Mirza Ghulam turunnya ke dunia ini sebagai "Fadhlan kabiran" bagi ummat manusia [37] Kemudian masih juga prihal turunnya Mirza Ghulam ke dunia, Ahmadiyah berkata:

"Pada hakikatnya ketika Imam Zaman turun ke bumi maka besertanya turun ribuan cahaya demi cahaya, dan di persada langit terjadi suatu suasana kemeriahan, dan terjadilah suatu penvebaran rohaniyat dan nuraniyat yang menggugahkan orang-orang berbakat suci. Pendeknya barangsiapa yang mempunyai bakat untuk menerima ilham semenjak itulah ia mulai menerima ilham". [38]

Dan siapakah Imam Zaman itu? Maka pada saat ini, kata Mirza Ghulam Ahmad, aku berkata tanpa merasa takut dan gentar sedikitpun, dengan kerunia dan anugerah Allah Ta`ala menyatakan: "Imam Zaman itu adalah aku sendiri" [39] Bagaimana ‘Hadits mengenai Imam Zaman itu? Ahmadiyah berkata telah mengutip sebuah Hadits, akan tetapi sayang tidak menyebut tentang isi maupun perawi-perawinya; Dikatakart dalam Hadits itu bahwa, "barangsiapa yang kembali ke hadirat Allah dalam keadaan tidak menahu atau tidak mengenal tentang Iman Zamannya, ia akan datang dengan mata buta dan matinya berada dalam keadaan jahiliyah"! [40]

Demikian vonis Ahmadiyah terhadap Muslimin maupun yang bukan Muslim, yang berada di luar aliran Mirza Ghulam Ahmad; kalau tidak mau tahu atau tidak mau kenal Imam Zaman itu, maka ia mati jahiliyah !

Ingin tahu bagaimana akhlak Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad itu? Ahmadiyah dengan lantang berkata:
"Pada diri Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad telah cocok sepenuhnya kandungan ayat : Innaka la ‘ala khuluqin ‘azhim. [41].
Allahu Akbar!

Innaka la ‘ala khuluqin azhim, Al Qur’anul Karim ayat 4 Suratul Qalam, yang disampaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai insan kamil yang dihiasi ahlak mulia, dengan enaknya diambil alih begitu saja oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai kualitet dari akhlaknya sendiri! Ia merasa telah memiliki segala-galanya. Di tangannya ada lampu aladin, Mirza tinggal menggosok maka segala keinginannya terkabul! Abu gosok telah terhidang di depan mata dalam sekejap dan siap untuk disantap nabi India!

Perhatikanlah kini sebaris pantun yang ditujukan pada Mirza Ghulam Ahmad, dibuat oleh pengikut-pengikutnya yang setia:
"Wujudnya meliputi segala-gala
sedang engkau hanya sebagian
Kau akan binasa jika
melarikan diri dari padanya".
[42]

Pantun di atas bukan saja satu peringatan keras bagi mereka yang melarikan diri dari lingkungan rumah Mirza Ghulam Ahmad tatkala wabah pes melanda Punjab termasuk Qadian! Melainkan juga satu peringatan keras buat setiap orang yang tidak masuk Ahmadiyah, bahwa mereka akan binasa, yakni mati kafir jahiliyah !

Kemudian ia, Mirza Ghulam Ahmad, dikenal juga sebagai khatamal aulia , yakni wali yang paling sempurna. [43]

Di samping kata khatam yang diartikan sempurna itu, ternyata Ahmadiyah memberi anti lain juga yakni: akhir. Sebab Mirza Ghulam Ahmad mengambil lagi kedudukan yang lebih meyakinkan dengan berkata: “Aku adalah Wali yang terakhir sebab tidak ada wali sesudahku. Yang dimaksud tidak ada wali sesudahku ialah wali-wali yang berada di luar lingkungan Ahmadiyah, [44].

Mereka bukan wali dan tidak bisa jadi wali, kecuali kalau mereka mau masuk menjadi pengikut-pengikut Mirza Ghulam Ahmad.

Langkah-langkah berikut yang ditempuh Mirza Ghulam Ahmad adalah langkah-langkah yang paling berani, dalam arti kata ceroboh, dari seorang Qadian yang mengaku dirinya Muslim.

Sesudah dikenal sebagai khatamal aulia’, Mirza Ghulam dikenal juga sebagai Muhaddats, yakni orang yang diajak bercakap-cakap oleh Allah. [45]

Bahkan Ahmadiyah mengatakan betapa tingginya derajat Mirza Ghulam Ahmad, sampai-sampai Allah Ta’ala dengan sangat terbukanya bercakap-cakap dengan beliau. [46] Seringkali terjadi soal jawab dan waktu itu ditanya, waktu itu juga datang jawaban.[47]

Last but not least Ahmadiyah berkata:
"Dan DIA (ALLAH) membuka tabir dari sebagian wajahNya yang bercahaya dan mengkilap itu. Bukan itu saja, bahkan seringkali demikian rupa seolah-olah Allah Ta’ala tengah bergurau dengan beliau". [48].

Explosive bukan?! Belum lagi, karena Mirza Ghulam belum meledakkan seluruh ambisi perutnya. Bagaimana hendak diartikan oleh Ahmadiyah kata-kata: seolah-olah Allah Ta’ala tengah bergurau dengan beliau?!

Lebih dari itu, mungkin dikarenakan Mirza Ghulam sudah melihat dari sebagian wajahNya yang bercahaya dan mengkilap itu, maka wajah Mirza kena kecipratan cahaya mengkilapnya Tuhan. Salah seorang cucunya yang bernama: Mirza Mubarak Ahmad, tokoh pimpinan dalam instansi tahrikjadid yang mengemudikan missi-missi Ahmadiyah di luar Pakistan dan India, menyanjung kakeknya Mirza Ghulam Ahmad dengan kalimat-kalimat yang amat mengesankan:

"Ketika hari raya Adha tiba, demikian Mubarak Ahmad bercerita, setelah beliau (Mirza Ghulam) duduk di kursi dan mulai berpidato, nampak seakan-akan beliau berada di alam lain. Mata beliau hampir-hampir tertutup dan wajah suci beliau begitu bercahaya nampaknya seakan-akan Nur llahy itu menyelimutinya dalam keadaan luar biasa bercahaya dan terang. Pada saat itu wajah beliau sukar dipandang dan dari kening beliau cahaya demikian memancar-mancar, sehingga, menyilaukan tiap orang yang memandangnya". [49]

Selanjutnya sang cucu meneruskan puja-pujinya terhadap kakeknya dengan mengatakan bahwa beliau (Mirza Ghulam) adalah Satu nur yang dizhahirkan ke dunia untuk menyinari ummat manusia. [50] Beliau adalah juga Bulan Purnama yang sempurna. [51].

Dengan gelar satu Nur dan Bulan Purnama yang sempurna itu, maka sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad boleh dipastikan, bahwa pada wajahnya terdapat satu cahaya yang sedap dipandang. Akan tetapi kalau mengingat kata-kata Mubarak Ahmad bahwa Mirza pada keningnya ada cahaya demikian memancar-mancar sehingga menyilaukan setiap orang yang memandangnya, maka apakah gerangan kiranya cahaya yang melekat di dahi Mirza Ghulam itu?! Kalau tidak sinar cahaya sang surya, mungkinkah itu cahaya mercusuar, yang langsung menyorot mata-mata para pengikutnya dari jarak yang tidak jauh, katakanlah tiga mil laut?!

MIRZA GHULAM TOKOH PENJELMAAN
Lebih banyak lagi kita mengenal tumpukan pangkat, gelar ataupun ibarat-ibarat yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, maka kita akan lebih meyakini letak hakiki dari tokoh Ahmadiyah itu dalam sejarah Islam. Tidaklah berlebihan jika kita mengumpulkan seluruh pangkat yang ada dalam sejarah kerohanian semua Agama, maka Mirza Ghulam Ahmad merupakan juaranya, baik sebagai kolektor maupun sebagai pemilik dari hasil-hasil koleksinya itu. Ia berkata tentang dirinya:
"Akulah Hajar Aswad yang dimiliki bumi ini, aku dicium ummat manusia guna memperoleh berkahnya". [52]

Selanjutnya Mirza mengaku sebagai khalifah akhir zaman [53], juga bergelar sebagai Guru jagat, [54] yakni guru bagi seluruh ummat manusia.

Karena sifatnya yang meliputi, maka Mirza Ghulam Ahmad mengambil langkah-langkah baru agar dapat memperoleh simpati dari ummat Hindu dan Buddha. Untuk ini Mirza Ghulam berkata:

"Sebagaimana kita ketahui di negeri India, seorang nabi telah lama pergi beberapa abad yang silam, yakni yang dikenal dengan nama: Krishna. Ia juga dipanggil, Ruvaddar Gowpal, si perusak sekaligus juga si pembangun, nama itu semua juga diberikan padaku. Sejak waktu itu bangsa Arya menanti-nanti kedatangan kembali sang Kreshna. Maka ketahuilah, aku inilah Sang Kreshna. Tuhan telah memberi kabar padaku bahwa Kreshna yang sedang dinanti-nantikan kedatangannya itu, tidak lain adalah aku raja bangsa Aryan". [55]

Mirza Ghulam Ahmad menerangkan bahwa dari gelarnya sebagai Ruvaddar yakni si perusak tidak lain bahwa ia adalah orang yang akan membunuh musuh-musuhnya dengan dalih serta alasan-alasan yang kuat.

Dengan pengertian yang demikian itu, maka Mirza Ghulam Ahmad telah merubah makna asal daripada kata-kata Ruvaddar atau sang Perusak sebagaimana yang terdapat dalam agama Hindu.

Kedudukannya sebagai raja bangsa Aryan dan sekaligus sebagai Kreshna, menurut Ahmadiyah telah dinubuwatkan dalam kitab suci kaum Hindu, dimana dikatakan bahwa akan datang kelak seorang Autar yang mempunyai spirit dan martabat seperti Kreshna, atau sebagai buruz dari padanya, dan sudah dipastikan, demikian Mirza Ghulam, bahwa aku inilah sang Kreshna!

Untuk lebih meyakinkan terhadap kedudukannya itu, putera Mirza, Bashiruddin M.A. pernah mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang mewahyukan pada Mirza bahwa ia adalah Kreshna. Antara lain Tuhan menurunkan wahyu:
"Engkau ya Mirza adalah Kreshna, nama itu telah dinyanyikan dalam kitab suci Gita". [56]

Peristiwa di atas tersebut, yakni turunnya wahyu pada Mirza sebagai sang Kreshna, mempunyai keistimewaan yang perlu digarisbawahi. Mula-mula Tuhan sendirilah yang mengabarkan bahwa dalam kitab suci Gita pujian terhadap Mirza telah dinyanyikan. Dan yang menarik lagi bahwa wahyu di atas disampaikan pada Mirza Ghulam oleh Tuhan, dalam bahasa India.
Maka tidak ragu-ragu lagi kalau orang-orang India akan meyakini kabar tersebut!

Dengan kata lain, Mirza Ghulam Ahmad maupun puteranya dan alirannya ingin menunjukkan sikap berbaik hati dan bertoleransi bahkan telah beriman pula terhadap kitab suci kaum Hindu. Bukankah Tuhan Mirza alias Tuhannya ummat Islam, yang menyebut-nyebut "Gita", kitab suci orang-orang Hindustan itu? Apakah Ahmadiyah akan mengatakan bahwa Tuhannya Mirza juga menyebut-nyebut nama kitab suci golongan Kristen, yakni kitab Bibel untuk kepentingan Mirza Ghulam?

Mungkin kalau Mirza Ghulam yang berkompromi dengan kaum Hindu, itu masih bisa diterima, akan tetapi kalau Tuhan yang berbuat demikian untuk diri Mirza, maka jelas sudah itu hanya suatu obrolan kosong. Lebih menarik lagi jika Tuhan sampai-sampai menurunkan wahyu pada Mirza dengan kata-kata:
"Engkau juga adalah Brahman Avatar, dan engkau adalah seorang yang telah dinubuwatkan semua nabi-nabi". [57]

Terus-menerus tiada henti-hentinya, Mirza Ghulam menumpuk seluruh pangkat dan gelar-gelarnya. Ia juga seorang yang digelari Rahmat Mujassam, yakni rahmat untuk keluarga, rahmat untuk kawan, rahmat untuk musuh, rahmat untuk tetangga, pembantu pembantu, peminta-minta dan untuk ummat manusia. [58] Rahmat (?) yang diberikan pada musuh, tetangga, dan ummat manusia oleh Mirza, akan merupakan cerita yang menarik kaki dan sangat berkesan.

Selanjutnya Mirza Ghulam Ahmad dikenal juga sebagai Sultanul Kalam, yakni raja di raja penulis yang karya-karyanya tiada tolok bandingannya. [59] Sebagai Sultanul-Kalam, Mirza Ghulam ternyata memiliki mu’jizat bahasa Arab dan untuk ini ia mengajukan tantangan pada siapa saja yang berani menandingi keistimewaan bahasa Arabnya. Bashiruddin Mahmud Ahmad berkata:

"Tuhan telah mengkaruniai Mirza Ghulam Ahmad ilmu bahasa Arab yang luar biasa, bahkan tidak dapat ditandingi sekalipun oleh mereka yang empunya bahasa itu sendiri. Untuk menyebarkan permaklumannya itu, ia telah menulis dan menerbitkan buku-buku dalam bahasa Arab kemudian menantang musuh-musuhnya, termasuk penulis-penulis di negeri Arab, Mesir dan Syria, andaikata mereka ini masih meragukan kedudukan Mirza Ghulam Ahmad. Tentu saja jawaban atas tantangannya harus dengan bahasa Arab pula. Namun kalau dilihat pada karya-karya Mirza, bagaimana keindahan sastranya, syair-syairnya, dan kehebatan serta kepadatan maknanya, maka tidak seorangpun yang akan berani muncul sebagai penantangnya. Buku-buku hasil karyanya itu sampai sekarang masih ada, dan kami masih membuka front bagi siapa yang berminat menandinginya". [60]

Siapa pula yang berani menantang bahasa Arab Mirza Ghulam? Tidak seorangpun yang menjawab tantangan itu! Bahkan, kata Ahmadiyah melanjutkan, juga Syed Rasyid Ridha yang pernah mendapat tantangan itu, tidak berani menjawabnya. [61]

Apa sebab Mirza Ghulam Ahmad konon menguasai bahasa Arab tak terkalahkan? Ahmadiyah menjawab:
"Perbendaharaan kata-kata beliau bertambah secara sangat ajaib, 40.000 kata dasar diperoleh Mirza Ghulam hanya dalam waktu satu malam saja! [62] Ya keajaiban ilmu yang tidak mungkin diraih oleh seorang Syaikhul Islampun dalam sehari semalam. Bukankah Lampu Aladin ada di tangan Mirza Ghulam Ahmad, tinggal gosok dan…sekejap mata abu gosok terhidang di depan matanya, siap disantap untuk menutupi wajah belang-belang kedustaannya.

Akhirnya Bashiruddin M.A. putera Mirza Ghulam itu, berkata: "Kemu’jizatan bahasa Arab Mirza Ghulam Ahmad, menyamai kemu’jizatan Al Qur’an ul-Karim". [63]

Jika demikian kedudukan bahasa Arab Mirza Ghulam, maka ia benar-benar raja di raja pena. Apakah ia juga raja untuk bahasa Urdu, Parsi dan Inggris? Kita akan tahu kelak bagaimana contoh dari bahasa Arabnya Mirza Ghulam yang tak terkalahkan itu.

Dan yang paling menarik dari kehebatan bahasa Arab Mirza Ghulam Ahmad, ialah sebagaimana yang diceritakan sendiri olehnya, bahwasanya segala yang diucapkan Mirza Ghulam adalah ayat-ayat suci yang diawali dengan Bismillahir-Rahmanir-Rahim, serta meyakini isi dari ayat-ayatnya sebagaimana meyakini ayat ayat Al Qur’anul Karim. [64] Itulah ciri-ciri khasnya bahasa Arab Mirza.

Masih meneruskan tentang pangkat-pangkatnya, dikatakan oleh Ahmadiyah maupun oleh Mirza sendiri, bahwa dari sudut tugas memperbaiki keadaan ummat dan membereskan masalah masalah yang dipertikaikannya baik yang menyangkut Sunnah dan Hadits, beliau Mirza Ghulam Ahmad adalah Imam Mandi [65] Kemudian dilihat dari sudut tugas menghadapi Dajjal dan fitnah-fitnahnya yang hebat di akhir zaman ini dan tugas menghadapi musuh-musuh Islam dengan keterangan-keterangan yang nyata dan tak terpatahkan, beliau adalah “Al Masih yang dijanjikan”.

Perihal kedudukannya sebagai Al Masih itu, oleh karena munculnya di kalangan Islam, maka Mirza Ghulam Ahmad bergelar Al Masih Al Muhammady, sebab Al Masih yang pertama, yakni Isa Al Masih adalah Al Masih Al Israili. [66] Mirza Ghulam Ahmad ternyata masih menggosok-gosokkan lampu Aladinnya, atau ia semacam lipan berkaki seribu, ambisinya untuk memiliki seluruh pangkat ketohanian, masih disusunnya lagi.

;Dan inilah klimaks dari cita-citanya. Mula-mula ia mengaku sebagai Nabi, akan tetapi bukan Nabi yang membawa syari’at melainkan sebagai Nabi Ummati, yakni nabi dari ummatnya nabi Muhammad s.a.w. Sebagai nabi ummati, Mirza Ghulam bisa juga memakai gelar-gelar seperti: nabi ghair tasy’ri’, nabi buruzi, nabi zilli, nabi majazi, nabi

lughawi, yang kesemuanya hanya menunjukkan sebagai bayangan atau pantulan atau nabi dari ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Akan tetapi karena Mirza memiliki lampu Aladdin, apa kehendaknya pasti terkabul. Bahkan ternyata ia bukan saja sebagai nabi bayangan tetapi sebagai nabi yang membawa dekrit dari Tuhan yang mungkin disetarapkan dengan syari’at.

Last but not least, Mirza Ghulam ternyata mengangkat dirinya sebagai Rasul Allah dengan sekaligus memperolen sanjungan Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (sallallaliu alaihi wasallam). [67]

Apa lagi yang belum menjadi miliknya? Ternyata Mirza masih mengumpulkan lagi pangkat-pangkat yang luar-biasa. la harus menjadi segala-galanya. Ia berkata dengan bangga:
"Sesungguhnya Allah telah memberiku semua nama-nama dari para Nabi". [68]

Yakni bahwa Mirza Ghulam Ahmad boleh dipanggil dengan panggilan nama-nama semua nabi. Sesungguhnya, berkata Mirza Ghulam:
"Bukan saja, aku ini dipanggil dengan nama Isa anak Maryam, bahkan semua nabi baik nama mereka maupun martabat mereka telah aku terima dari Allah. Itulah sebabnya, sebagaimana yang dijanjikan Tuhan dalam Barahiyn Ahmadiy-nya, aku ini adalah Adam, aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ya’kub, aku Ismail, aku Musa, aku Daud, aku Isa, anak Maryam, dan aku Muhammad dalam arti buruznya". [69]

Dengan martabat para nabi yang ia miliki itu, maka Mirza Ghulam Ahmad sanggup menonjolkan beberapa mu’jizat dari para nabi, maupun mengalami beberapa peristiwa seperti yang dialami mereka.

Satu nama lagi yang ia terima dari Tuhannya ialah: Abdul Qadir, entah untuk panggilannya itu ia sejajar dengan sayidina Abdul Qadir, atau Abdul Qadir yang lain, kurang jelas. [70]

Demikianlah cerita tentang nama, pangkat gelar dan kedudukan yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad. Dan sekedar untuk menyegarkan pikiran, inilah keseluruhannya itu: Mirza Ghulam Ahmad adalah — kibriti ahmar — hajar aswad pelindung telur Islam — penjaga kebun Allah — bulan purnama — satu Nur — Guru Jagat — Fadhlan kabiran — Rahmat Mujassam — Sultanul kalam — Raja Aryan. Mujaddid — Mujaddid Akbar –Khatamul Aulia’ — Khatamul Khulafa’ — Imam Zaman — Imam Mahdi Al-Ma’hud — Hakim yang adil — Al Masih Al-Mauud — nabi buruzi — nabi dengan dekrit Tuhan — Rasul Allah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam — Abdul Qadir — Adam — Nuh — Ibrahim — Musa — Isa — Ya’kub — Ishaq — Daud — Ismail — dan semua nabi. Aku adalah Kreshna — Brahman Avatar — dan aku adalah Kodrat Tuhan yang berjasad. [71]

Perihal akhlak dan prangainya maka Mirza Ghulam Ahmad adalah: Seekor singa jantan yang tampil ke depan — pemaaf — penutup kekurangan orang lain — pemurah — setia — rendah hati — sabar — syukur — memadakan yang ada –pemalu

– tunduk mata –menjaga diri dari segala keburukan — rajin — mencukupkan dengan yang dapat – tidak suka formalitas — sederhana –menyayangi — adab llahi — adab Rasul — dan orang-orang suci Agama — pendamai — tidak suka berlebih-lebih-an — suka melaksanakan kewajiban — suka memenuhi janji — terampil — bersimpati — suka menyebar agama — mendidik — indah dalam pergaulan — pengamat harta — berwibawa — kesucian — periang — penyimpan rahasia –ghairat — ihsan –pemelihara martabat orang — baik sangka — bersemangat — ulul ‘azam — penjaga diri — tenang berpikir — menahan amarah — menahan tangan dan lisan dari perbuatan lancang –berkorban — waktunya selalu penuh — mengatur perkembangan ilmu dan ma’rifat — pencinta Tuhan dan RasulNya — pengikut Rasul yang sempurna — mempunyai daya tarik magnitis — satu daya penarik yang ajaib disegani — berbakat kecintaan — katanya mengesankan — doanya makbul. [72]

Itulah Mirza Ghulam Ahmad, tidak ada satu kekurangan lagi bukan? Itulah keinginannya dan untuk itulah puteranya maupun pengikut-pengikutnya percaya tanpa reserve. Siapa yang tidak percaya dan tidak mengakui sebagai Imam Zaman dimana tercakup kenabian dan kerasulannya, maka matinya orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad adalah mati jahiliyah of mati kafir. [73] Rupanya setannya Mirza lupa dan tersilap bahwa para nabiyullah ‘Alaihissalam adalah manusia-manusia mulia, mereka bukanlah manusia-manusia berwatak rakus akan jabatan dan gelar-gelar sebagaimana rakusnya Su-permen dari India.

(Bersambung edisi ke III, Insya Allah bertema: “Ahmadiyah Sebagai Crypto-Islam”, Aliran yang secara terselubung mengoper ajaran-ajaran Islam)

Footnote:
[1] Aliran atau gerakan yang mempersatukan berbagai paham di bawah pimpinan seseorang
[2] Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat Hidup Hazrat Ahmad a.s., 1966, Djemaat Ahmadiyah Tjabang Djakarta, hal. 2, terjemah oleh Malik Aziz Ahmad Khan;

http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/riwayat/ahmad-1.htm#A%20h%20m%20a%20d

[3] Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat Hidup Hazrat Ahmad a.s., hal. 2; http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/riwayat/ahmad-1.htm#A%20h%20m%20a%20d dan Gh. J.D. Shams. h.a., ISLAM, tanpa tahun, Ahmadiyya Muslim Foreign Missions Office, Rabwali, hal. 16 (his full name was Ghulam Ahmad,….)
[4] ibid
[5] ibid
[6] Mirza Ghulam ‘Ahmad, Al Istiftaa’, 1378 Hijrah, Rabwah Matba’ah an Nashrah, hal. 75: (fi kitab sawaanah abaaii wa sami’tu min abi an abaaii kaanuu min al jarthumah al muqliyah). Al Jum’iyat ul Syarqiyah linasyru al Kutub id Diniyah Rabwah.
[7] Mirza Ghulam Ahmad, Al Istiftaa’, hal. 75: (wa lakin Allah auhii ilaa annhum kaanu min bani Fares, la minal aghwaam turkiyah.)
[8] Bashiruddin Mahmud Ahmad, Djasa Imam Mandi a.s., Soerabaya Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia (A.A.D.I.) Gemeente, th. 1940
[9] Suara Lajnah Imaillah (Majalah kaum ibu Ahmadiyah), no. 10, th. II-1974, B.P.L.I. (Badan Penghubung Lajnah Imaillah Indonesia), Yogjakarta, hal.27.
[10] Sinar Islam (Majalah Ahmadiyah), no. 5-6, 1974, Jakarta Yayasan Wisma Damai, hal. 26.
[11] Mirza Ghulam Ahmad, Tukhfah Baqdad, Matba’ah an Nashrah, Rabwah, 1377h., hal. 26.
[12] Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat hidup Hazrat Ahmad a.s. hal. 2;
http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/riwayat/ahmad-1.htm#A%20h%20m%20a%20d

[13]Mirza Ghulam Ahmad, AI-Khutbatul Islamiyah, Rabwah Wikalah at Tabsyiir li-Tharik uj Jadid, 1388 h., hal. 86: (wa an Allaha sammahu Ahmad bima yahmadu bihi-r Rabbul Jalil fil ardhi kama yahmadu fis sama’)
[14] Suara ANSHARULLAH, majalah bulanan Ahmadiyah, no. 3 & 4, Djuni/ Djuli th. 1955, P.P. Ansharullah — Pusat Indonesia Djogjakarta, hal. 18
[15] ibid
[16] Suara Lajnah Imaillah, majalah kaum ibu Ahmadiyah no. 10. th. II. 1974, B.P.L.I. (Badan Penghubung Lajnah Imaillah Indonesia), Jogjakarta, hal. 27.
[17] suara Ansharullah, hal. 18/19 (note: aslinya ditulis dalam ejaan lama, di sini disesuaikan dengan ejaan baru).
[18] Abul Qasim as Suhaily, ar Raudul Unuf, 1332/1914, Marokko Sultanul Maghrib, hal. 106: (Allahummaj ‘alni min ummati Ahmad).
[19] dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam, Muhammad Rasul ul A’zham, 1394/ 1974, Majlis A’lalisy Syuunal lslamiyah, Cairo, hal. 24.
[20] Mirza Ghulam Ahmad, Al Istiftaa’, hal. 75: (wa lakinnal-lah auhi ila annahum kanu min bani faras la min a-aqwaam ut turkiyah).
[21] Mirza Ghulam Ahmad, Al Khutbat ul Ilhamiyah, hal. (ha’): (wa innahu ma ja’a min-al Qureisy kama inna Isa,ma ja’a min bani Israil).
[22]
http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/riwayat/ahmad-2.htm#Bai%27at%20Pertama
[23] www.ahmadiyya.or.id , keterangan “Imam Mahdi & Masih Mau’ud Pendiri Jemaat Ahmadiyah” di bawah foto dajjal pendusta dari Qadian, Mirza Ghulam Ahmad.
[24] Mirza Ghulam Ahmad, al Khutbatul Ilhamiyah, hal. 13. (wa wajaba anla yakun hadzal Khalifah minal Qureisy).
[25] Mirza Ghulam Ahmad, al Khutbatul Ilhamiyah, hal. 46: (inni anaAl-mahdi alladzi huwa al Masih Muntadzir al Mau’ud, wama jaa fihi annahu min bani Fatimah)
[26] ibid, hal. 87: (wa ja’alahu min haisul aba’ min abna Faras wa min haisul ummahaat min bani Fatimah liyajmau fihil jalaal wal jamaal).
[27] Mirza Ghulam Ahmad, al Istiftaa’, hal. 75: (wa ma’a dzalika akhbarani rabbi bian ba’da ummahati min banil Fatimah wa min ahli baitin nubuwwah; wallahu fihim nasl Ishaq wa Ismail min kamalil hikmah wal mushalahah).
[28] Bashiruddin Mahmud Ahmad, Ahmadiyya Movement, Rabwah The Ahmadiyya Muslim Foreign Missions Office, 1962, hal. 47: (from the boots of the Hindus it appeared that the promised Messiah was an Indian).
[29] Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 47: (in ’short, in him were fulfilled all the prophecies contained in the books of the Christians, the Parsees, the Hindus and Muslims),
[30] Suara Lajnah Imaillah, no. 10 th.II, 1974, hal. 33
[31] ibid, hal. 33
[32] Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., Yayasan Wisma Damai, Bandung 1971, hal. 7.
[33] Mirza Ghulam Ahmad, Perlunya seorang Imam Zaman. terjemah: R. Ahmad Anwar, 1966, P.P. Majlis Chuddamul Ahmadiyah Indonesia, Jakarta, hal. 17.
[34] ibid, hal.17.
[35] ibid, hal. 17.
[36] Saleh A.Nahdi, Ahmadiyah Selayang Pandang, Khuddamul Ahmadiyah, Surabaya 1963, hal.27
[37] Saleh A.Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah I, Ujung Pandang, RAPEN, 1972, hal.23.
[38] Mirza Ghulam Ahmad, Imam zaman, hal.10
[39] i bid, hal 32.
[40] ibid, hal. 10 ; Majalah Ahmadiyah “Sinar Islam“, no.13, 1965, Bandung, Yayasan Wisma Damai, hal.8
[41] Mirza Ghulam Ahmad, Imam Zaman, hal.15.
[42] Mirza Ghulam Ahmad, Perlunya Imam Zaman, hal.18.
[43] Mirza Ghulam Ahmad, al Khutbatul Ilhamiyah, hal.9
[44] Mirza Ghulam Ahmad, ibid, hal. 10: (wa ana khatamal auliya’ la wali ba’di illal lazhi huwa tninni wa ala ahdi)
[45] Mirza Ghulam Ahmad, Ajaranku, alih bahasa R.Ahmad Anwar, Bandung, Yayasan Wisma Damai, 1966, hal. 43.
[46] Mirza Ghulam Ahmad, Perlunya Seorang Imam Zaman, hal. 20
[47] ibid, hal. 20
[48] ibid, hal.20.
[49] Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal. 83.
[50] ibid, hal. 87
[51] ibid, hal.5.
[52] Analyst, Facts about Ahmadiyya Movement, 1951, Ahmadiyya Anjuman Isha’at al Islam, Lahore, hal. 28: (I am that Hajar- I -Aswad that has been accepted on this earth by the people and is touched by them for blessing).
[53] Mirza Ghulam Ahmad, Khutbat-ul-ilhamiyah, hal. 82.
[54] Malik Aziz Ahmad Khan, Jasa Imam Mandi a.s., hal. 139

[55] The Review of Religions, March 1966, Rabwah, hal.79: (we find that in the country known as India, a Prophet of God has gone before, in the agesof past, who bore the name "Kreshna"; he was also called Ruvaddar Gowpal (i.e.destroyer, on one side, sustainer and developer, on the other). This name too, has bestowed on me. Since, Therefore, the Aryan people, these days, are awaiting the second advent of the Lord Krishna, I am that Krishna. I am not making claim purely on my own behalf; Allah has revealed to me, time and time again, that the Krishna expected to appear towards the latter days, was none other than my self – King of the Aryans.
[56] Bashiruddin M.A, Ahmadiyya Movement, hal.4: (Brahman av tar sa
o kwa bi la achha na heen. Aye Krishna dar Go pal teri meh ma Geeta men hai. Thou art the Blessed Krishna, the cherisher of Cows, and thy praise is chanted in the Gita.)
[57] Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal.4
[58] Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s., hal.47
[59] Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau’ud a.s. hal. 47
[60] Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 115: (…, he made an announcement that God has bestowed upon him an extraordinary knowledge of and command over, the Arabic language which could not be matched even by those whose mother tongue was Arabic. In persuance of this announcement he wrote and published several books in Arabic and called upon his opponents, including the people of Arabia, Egypt, and Syria, if they doubted his claim, to write books in Arabic, which should, in point of literary style, purity of diction, beauty of composition and the excellence and pregnancy of meaning, match those written by himself, but none has so far dared to take up the challange. The books written by him are still extant, and we still claim that they cannot be matched, and that God’s hand would be raised against any person who presumes to make an attemp to match (them.)
[61] Bashiruddin M.A., Invitation, Rabwah, Ahmadiyya Muslim Foreign Missions 1961, hal. 97: (Arabs were included in the challange, one book being specially addressed to Syed Rashid Riza of Al-Manar. The Syed did not accept the challenge.)
[62] Bashiruddin M.A., Invitation, hal. 97: (When the Ulama had done their worst, God granted him special knowledge of the Arabic language. His vocabulary grew miraculously to 40.000 root-words in a single night.)
[63] Bashiruddin MA., Invitation, hal. 97. (This miracle of language imitaxtes the miracle of the Holy Quran. It is a sign of the Promissed Messiah’s truth.)
[64] Mirza Ghulam Ahmad, al-Istifta’, hal.77: (wa nu’minu biha kama nu’minu bi kitabillah khaliqil Anaam, wahii hadzihi: bismillahirRahmanirRahim)
[65] Saleh A.Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal.29, serta hampir semua kitab-kitab Ahmadiyah.
[66] Mirza Ghulam Ahmad, al Khutbatul Ilhamiyah, hal.dzal dan hal. zai. Juga
oleh sdr. Drs Bahrum Rangkuti (sekjen) Departemen Agama pada puisinya yang berjudul "Silaturahmi (II)" pada halal bihalal di Bali Room dari masyarakat Sumut 29/12/’69, menyebut Isa a.s. sebagai Al Masih al-Israeli.

[67] M.G.A., Khutbatul Ilhamiyah, hal.muka, Perlunya Seorang Imam Zaman, hal 32, Tuhfah Bagdad, hal.muka dan lainnya.
[68] Mirza Ghulam Ahmad, al Istifta’, hal.82: (sammani rabbi ibrahim wa kadzalika sammani bi jama’i asmail-anbiya min adam ila khatimurusl)
[69] The Review of Religions, Mart 1966, hal. 10: (But, in the heavenly records. Isa, the son of Mary, is not only the name given to me: I have other names as well, twentysix years ago, which Allah made me put down in the pages of Braheen-i-Ahmadiyya. There is no prophet of God whose name and qualities Allah has not bestowed on me. Therefore, as God has promised in Braheen-i-Ahmadiyya-I am Adam. I am Noah, I am Abraham, I am Isaac, I am Jacob, I am Ismail, I am Moses, I am David, I am Isa, the-son of Mary; and I am Muhammad, in a sense and manner I call burzi.)
[70] Mirza Ghulam Ahmad, Thuhfah Bagdad, Rabwah Matba’ah An-Nadrah, 1377, hal.29: (ya Abdulqadir inni ma’aka asman wa araa).
[71] Mirza Ghulam Ahmad, al Wasiyat Neraca Trading Company, Jakarta 1949, hal. 12.
[72] Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mauud a.s., hal. 85/86
[73] Mirza Ghulam Ahmad, Perlunya Seorang Imam Zaman, hal. 10/32


Categories: Umum

Ahmadiyah Telanjang Bulat (1)

11 - May - 2008 nyata Leave a comment

GUNDIK-GUNDIK ORIENTALIS (UPDATE 13/05/08)
Sekian waktu kaum muslimin merasa gerah dengan eksploitasi kesesatan Ahmadiyah yang dipertontonkan kepada umat. Terlebih lagi dengan datangnya para peternak dan penangkar-penangkar kesesatan dan kekufuran. Saling bersahutan agar kekufuran dan kesesatan yang mereka tangkar dilindungi dan dipertahankan. Sejak kesesatannya disoal kembali oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), berduyun duyun para antek-antek liberalis dan neo-kolonialis memasang badan demi keselamatan hidup aliran sesat yang satu ini. Ya, kanker ganas yang telah sedemikian mengurat-akar menggurita menggerogoti aqidah Islamiyah dan menjadi parasit yang berupaya menghisap habis iman umat Islam Indonesia selama berpuluh tahun lamanya berupaya terus dipertahankan agar berhasil menyedot dan menggerogoti serta mematikan tubuh kaum muslimin.

Sebuah kelompok sempalan yang sebenarnya telah lama dikafirkan oleh para ulama karena aqidah dan keyakinan sesat mereka. Manusiawikah? Seberapa besar peduli kita jika kekufuran dan kesesatan itu tidak dinisbatkan kepada Islam, Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya? Adapun mempertahankan dan melindungi kekufuran dengan tetap melabelinya sebagai Islam? Bagaimana kita bisa tertidur nyenyak ketika pembusukan imam Islam begitu gencarnya mereka atraksikan?

Tidak ada tindakan yang lebih “tolol dan konyol” kecuali mencap tolol dan konyol fatwa sesatnya gerakan sesat dan nyata-nyata sesat semacam Ahmadiyah.

http://img118.imageshack.us/img118/3053/fatwakonyoltololsi7.jpg

Dan tidak ada yang tersinggung ketika kesesatan digugat kecuali orang tolol gundik kekafiran itu sendiri. Ya, itulah gundik-gundik imperialis orientalis yang sedang beraksi mencium pantat tuan-tuan kafir mereka! Itulah pekerjaannya, menjadi pramunikmat penjilat orang-orang kafir yang tak mengenal rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala! Semoga Allah segera mengadzab dengan adzab yang setimpal, amin.

Sungguh tulisan ini tidaklah sebanding dengan kemarahan dan kegeraman kaum muslimin terhadap tingkah laku mereka yang telah jauh melampaui batas-batas kurang ajar dalam menistakan Islam, Al Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya!! Setiap yang keluar dari lisan-lisan dan tulisan mereka, selalu dan selalu bernanah busuk untuk menghancurkan Islam dan meresahkan umat Islam.

Patut disayangkan, seorang sejarawan dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Asvi Warman Adam dengan berkedok kajian sejarah ternyata juga terperangkap oleh sejarah manis yang dibuat dan dihidangkan oleh Ahmadiyah! Dimanfaatkan oleh Jawa Pos Grup untuk meniupkan semangat Liberandalisme terhadap Islam.

http://img104.imageshack.us/img104/3016/asviartikelfm1.jpg

Tak tanggung-tanggung, Jawa Pos pun sampai memuat ulasan khusus yang bernada ancaman kepada pemerintah dengan judul “Jangan Bikin Blunder masalah Ahmadiyah” yang bernada sinis dengan mengkambinghitamkan kemarahan kaum muslimin.

http://img74.imageshack.us/img74/7742/jawaposbekingahmadiyahng4.jpg

Senada, Zoemrotin dari Komnas HAM pun menjadi beking kesesatan dan kekufuran Ahmadiyah, melabrak MUI dan mengeluarkan pernyataan yang melukai iman Islam:

http://img131.imageshack.us/img131/8736/komnasbekingahmadiyahtv3.jpg

Apakah kaum muslimin marah secara tiba-tiba, tanpa sebab langsung terjadi akibat? Benar bahwa tindakan anarkhis adalah tindakan yang keliru (dan jangan sampai kaum muslimin terpancing provokasi mereka yang berupaya keras membenturkan umat Islam dengan pemerintah karena ini hanya akan merugikan umat Islam itu sendiri) tetapi tidak berarti bahwa tindakan anda benar dengan cara melindungi kesesatan dan kekufuran Ahmadiyah! Bahwa mereka (Ahmadiyah)pun memiliki hak untuk bebas mengamalkan aqidah-aqidah kufurnya dengan label Islam!

Kalau Jawa Pos menyatakan: “Biarlah keyakinan tetap berada pada ranah umat beragama”. Jika demikian, maka kita kaum muslimin juga dapat menyatakan: “Apa urusanmu dengan MUI?” Bukankah kamu –wahai Jawa Pos dan Zoemrotin– bukan mewakili ranah keyakinan umat Islam? Dan biarlah ranah keyakinan umat Islam tetap berada pada ranah umat Islam sendiri! Dan umat Islam, sekali lagi, berhak mempertahankan agama dan keyakinannya dari serangan musuh-musuh Islam!

Tak pelak, setan dan balatentaranya tentulah tak akan ridha dengan semua ini. Lobi-lobi terselubung, tekanan, makian bahkan ancaman terhadap pemerintah agar tidak mengeluarkan keputusan resmi pelarangan ajaran Ahmadiyah benar-benar dilakukan tanpa kenal lelah dan putus asa. Allahul musta’an.

Sesungguhnya, permasalahan Ahmadiyah SUDAH LAMA DISELESAIKAN oleh para ulama kaum muslimin dan bukan hanya MUI!! Jauh sebelum itu telah difatwakan kekafiran Ahmadiyah…

Di India, negeri dimana Ahmadiyah dilahirkan, para ulama telah berdiri membentengi Islam dan menghadang serangan-serangan aqidah kufur Ahmadiyah sejak hari pertama Mirza Ghulam Ahmad memproklamirkan ilham-ilham setan yang diterimanya! Di Pakistan pun demikian. Di Saudi pun para ulama bersikap sama sebagaimana ulama-ulama di belahan dunia lainnya.

Pertanyaan telah diajukan kepada Lajnah Da’imah lil Buhuts al Ilmiyyah wal Ifta’:
Kami mohon penjelasan dari Syaikh tentang pandangan Islam terhadap kelompok Qadiyaniyah dan tentang pernyataan bahwa mereka memiliki nabi bernama Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani”

Jawab:
Masa kenabian telah selesai dengan munculnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena itu tidak ada lagi nabi setelah beliau. Demikian disebutkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Maka, siapa saja yang mengklaim dirinya sebagai nabi setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia adalah pendusta. Dan diantara pendusta itu adalah Ghulam Ahmad Al Qadiyani.

Lajnah Da’imah Kerajaan Saudi telah mengeluarkan pernyataan bahwa kelompok Qadiyaniyah adalah kafir disebabkan keyakinan mereka itu. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan kepada para pengikutnya.

Ketua : Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdillah Ibn Baaz

Wakil : Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi

Anggota : Syaikh Abdullah Ibn Ghudayyan, Syaikh Abdullah Ibn Qu’ud

Fatawa al Lajnah ad Da’imah lil Buhuts al Ilmiyyah wal Ifta’, jilid 2, halaman 313, Fatwa no.4317 [sumber: www.fatwaonline.com ]

Itulah contoh fatwa (selain MUI) dari sekian fatwa-fatwa yang ada yang mengkafirkan Ahmadiyah karena kesesatan aqidahnya.

Ya, Asvi, Jawa Pos, Zoemrotin adalah contoh “korban” sejarah yang diolah dan dihidangkan khusus oleh Ahmadiyah Indonesia untuk orang-orang yang tak tahu sejarah Ahmadiyah itu sendiri!!

Bagaimana sejarawan terkenal ini bisa mengambil kesimpulan dan solusi yang tepat jika permasalahan kanker ganas Ahmadiyah dibonsainya sekerdil sejarah Ahmadiyah di Indonesia? Ahmadiyah bukanlah hasil karya orang Indonesia sehingga anda cukup membatasinya dalam skup sejarah Indonesia! Ahmadiyah adalah sejarah pergolakan muslim India!! Di situ Ahmadiyah dilahirkan! Bagaimana mungkin anda menemukan solusi tepat jika anda sendiri (maaf) tidak mempelajari sejarah asal-usul dan latar belakang munculnya kelompok ini? Perlu juga bagi anda untuk mengkaji fatwa-fatwa para ulama berkenaan dengan aqidah-aqidah Ahmadiyah dan ini tidak cukup bermodalkan status sejarawan! Wallahu a’lam, sejarawan konyol walaupun kita tidak mungkin mengatakan bahwa beliau adalah orang tolol.

Untuk mengetahui "Apa dan Siapa Gerakan Ahmadiyah/Ahmadiyya Movement" sampai kepada lubuk dasarnya, hakikat dirinya, latar belakang munculnya, kekuatan berpijaknya serta bayangan tempat berteduhnya, akan memerlukan ketekunan menggarap dan ketelitian menelaah kitab/ buku-buku mereka, baik kitab Ahmadiyah yang Qadiani maupun yang Lahore. Alhasil, kita harus masuk lewat belakang dari pintu dapur Ahmadiyah, dimana “masakan” ilham-ilham setan Mirza Ghulam Ahmad digarap. Walhamdulillah bahwa Ahmadiyah sendiri telah mendukung upaya kita ini, mereka telah “mengijinkan” kita untuk menengok masakan yang telah diolahnya, situs resminya (www.ahmadiyya.or.id ) telah mempublikasikan salah satu rujukan yang ada di dalam artikel ini, terjemah hasil tulisan Khalifah Al Masih II, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad.

BIANG KELADI
Bashiruddin Mahmud Ahmad sebagai anak Mirza Ghulam Ahmad (sekaligus Khalifah Al Masih ke II Ahmadiyah) menceritakan dalam buku sejarahnya bahwa bapaknyalah yang menjadi biang kerok keresahan dan kemarahan umat Islam. Ya, kemarahan umat Islam terhadap Ahmadiyah telah muncul bergelombang sejak awal mula Ahmadiyah itu dilahirkan, sejak Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Al Masih Al Mau’ud yang telah mendapatkan ilham-ilham dari Allah Ta’ala.

Tahukah anda, apa bunyi ilham pertama yang diturunkan oleh “tuhannya” Mirza kepadanya? Ilham itu berbunyi:

Wassamaa-i wath thaariq”! Jangan anda salah sangka bahwa ini adalah ayat QS. Ath Thariq (QS. 86:1) yang artinya “Demi langit yang datang pada malam hari”.

Tidak demikian halnya bagi Ahmadiyah, karena ternyata “tuhannya” Mirza terlalu bodoh untuk mengilhamkan ayat-ayat “sucinya” sehingga cukup baginya untuk menjiplak ayat Al Qur’anul Karim walaupun kemudian memperkosa ayat tersebut dan diartikan sebagai: “Persumpahan demi Langit yang merupakan sumber takdir, dan demi peristiwa yang akan terjadi setelah tenggelamnya matahari pada hari in3 i.” [1]

http://img131.imageshack.us/img131/130/ilhampertamajiplakquranvi2.jpg

Kami katakan bahwa Mirza Ghulam dan Ahmadiyah telah memperkosa ayat Al Qur’an karena ayat tersebut ditafsirkan menyimpang jauh dan jauh dari yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala! Sebab pada ayat kedua surat Ath Thariq, Allah telah menjelaskan (artinya): (2)“tahukah kamu apa yang datang pada malam hari itu? (3) (yaitu) bintang yang cahayanya menembus,…”

Demikianlah di dalam Al Qur’an, yakni bintang yang cahayanya menembus. Beda dengan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Mirza dan Ahmadiyah menyimpangkan ayat tersebut untuk kemudian diklaim dan dimonopoli oleh setannya Mirza Ghulam Ahmad sehingga diartikan sebagai kabar ghaib bahwa ayah Mirza akan mati!

Bashiruddin Mahmud Ahmad menjelaskan: “dan dengan perantaraan ilham ini Allah Ta’ala dengan cinta-Nya seolah-olah menyatakan behwa : ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu.”

Apa kata Mirza melukiskan kesedihannya?
Ketika saya diberi khabar oleh-Nya bahwa ayahanda akan wafat setelah matahari terbenam, sebagai manusia hati saya sangat sedih dan gelisah”

Maka, ilham tuhannyapun turun kembali:
Semua pikiran ini secepat kilat melewati diri saya, tiba-tiba saya rasakan seperti tidur dan menerima ilham yang kedua ini :

Alaisallahu bikaafin ‘abdahu?” (Apakah Allah tidak cukup bagi hambaNya?)

Yassalam! Ayah Mirza akan mati dan tidak perlu terlalu sedih hati Mirza ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintai dan menjadi tulang punggung keluarganya, sebab tuhannya telah memproklamirkan dirinya sebagai pengganti ayahnya! Dengan kata lain, plagiat yang persis sama dengan keyakinan orang-orang Kristen bahwa Mirza diangkat sebagai anak pungut tuhannya!

Maka tidak ada lagi alasan bagi Mirza Ghulam untuk bersedih lagi.

Dari ilham ini hati saya menjadi teguh, bagai luka parah yang tiba-tiba menjadi sembuh dan pulih karena suatu obat. Setelah mendapat ilham ‘Alaysallaahu bikaafin ‘abdahu’ saya yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan menolong saya. [2]

http://img74.imageshack.us/img74/5234/ilhamkeduajadianakallahiw4.jpg

Bagaimana reaksi Mirza Ghulam setelah mendapatkan ilham pertama dan kedua ini (yang juga menjiplak begitu saja QS. Az Zumar:36), apakah akan mendatangi kaumnya dan menyiarkan kabar kenabiannya kepada kaum muslimin India? Belum, belum saatnya bagi Mirza Ghulam untuk menyampaikan ilham-ilham tuhannya. Bukankah Mirza Ghulam sendiri yang menyatakan bahwa “saya yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan menolong saya”? Benar, akan tetapi Mirza Ghulam tahu benar bahwa jika dia segera menyiarkan ilham-ilham ini kepada umat Islam, tidak syak lagi bahwa umat Islam akan melempari dirinya dengan batu dan meneriakinya sebagai orang gila yang mengaku sebagai nabi (palsu)!

Tidak ada jalan lain bagi Mirza Ghulam Ahmad kecuali tuhannya “menolongnya” melalui bantuan orang Hindu!! Ya, Mirza menceritakan ilham-ilhamnya ini agar ditindaklanjuti oleh orang Hindu.

Kemudian saya memanggil seorang warga Hindu penduduk Qadian, bernama Malawa Mal yang hingga kini masih hidup, dan menceritakan semua kejadian itu kepadanya. Lalu saya serahkan tulisan ilham itu kepadanya dan menyuruhnya pergi ke Amritsar minta tolong Hakim Maulvi Muhammadd Syarif Kalanauri untuk mengukirkan ilham tersebut pada sebuah mata cincin berupa stempel (cap). Untuk menyelesaikan urusan ini saya sengaja memilih orang Hindu supaya ia menjadi saksi tentang khabar ghaib itu. Maka cincin cap itu diselesaikan oleh Maulvi tersebut dengan harga 5 rupis, kemudian oleh Malawa Mal diserahkan pada saya." [ibid]

Demikianlah, sejak hari pertama kelahiran bayi Ahmadiyah, “sentuhan” dan polesan kekafiran telah nyata-nyata dimasak oleh Mirza bersama para shahabat setianya, orang Hindu. Dan pembaca nantinya akan melihat bahwa sentuhan dan polesan kekafiran ini ternyata merupakan buah dari sentuhan-sentuhan mesra orang-orang kafir yang telah diwariskan dari kakek-kakek Mirza Ghulam Ahmad!

Walhasil, ilham-ilham tuhannya Mirza tidak lagi dapat dibendung, ilham-ilham tersebut terus turun dan Mirza Ghulam Ahmad membukukan ilham-ilham “tuhannya” yang dinisbahkan kepada Allah Ta’ala dan memberi nama Barahiyn Ahmadiyah yang telah dicetak pada tahun 1884. Ya, sebuah buku yang tiada bandingannya karena langsung diilhamkan oleh tuhannya Mirza kepadanya!!

Maka berdasarkan ilham dan wahyu Ilahi, beliau bangkit untuk mengarang sebuah buku yang menerangkan perkara-perkara tentang kebenaran agama Islam, yang betul-betul tidak dapat dijawab oleh para musuh Islam untuk selamanya. Tiap-tiap orang Islam dapat mempergunakan keterangan-keterangan itu untuk menjawab segala serangan terhadap Islam. Dengan kemauan dan tujuan itulah beliau as. mulai mengarang buku yang terkenal dengan nama Barahiyn Ahmadiyah, yang tidak ada bandingannya dari karangan-karangan orang lain.”

http://img74.imageshack.us/img74/1705/barahiyngemparkanumatlx9.jpg

Kenapa isi buku tersebut “betul-betul tidak dapat dijawab oleh para musuh Islam untuk selamanya?” Karena kelahiran isi buku tersebut (baca: Ahmadiyah) memang hasil kolaborasi dengan musuh-musuh Islam! Jadi, kenapa musuh-musuh Islam itu harus menjawab “hasil karyanya” sendiri yang memang diperuntukkan bagi penghancuran Islam atas nama Islam itu sendiri?

Kegemparan (umat Islam) di seluruh negeri India justru adalah jawaban yang ditunggu-tunggu oleh musuh-musuh Islam. Berarti upaya mereka untuk menggoyang Islam dan umat Islam sudah mulai menuai hasilnya.

Ya, “tiap-tiap orang Islam dapat mempergunakan keterangan-keterangan itu” sebagai bukti sejarah kepalsuan “Al Qur’an made in Qadian”! Ayat-ayat yang diilhamkan oleh setan yang kemudian diklaim sebagai “ilham Ilahi” oleh Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya yang pada akhirnya menimbulkan gelombang kemarahan umat yang tiada henti sampai hari ini.

Maka saat yang dinanti-nantikan telah tiba dimana sang nabi palsu dari Qadian harus mengumumkan beslit pengangkatan kenabiannya kepada umat Islam India, dan ini adalah titik awal biang keladi sejarah turun-temurun kemarahan umat Islam sepanjang sejarah keberadaan gerakan Agama Ahmadiyah ini sampai hari ini yang mendompleng kemuliaan agama Islam…

http://img117.imageshack.us/img117/9519/beslitkenabianva2.jpg

Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya”

Ini adalah ilham yang tidak sepenuhnya benar karena hanya “dunia Islam” yang menolak kehadiran ayat-ayat setan dan kenabian palsunya. Adapun orientalis kolonialis Salibis dan orang-orang kafir India? (Sebagaimana akan kita buktikan, Insya Allah) merekalah yang mengandung, melahirkan, menyusui dan menimang-nimang Ahmadiyah untuk kemudian membesarkannya demi tujuan busuk dan jahatnya dalam upaya menghancurkan Islam dan memporak-porandakan barisan kaum muslimin atas nama Islam itu sendiri. Semoga Allah mengembalikan makar dan tipu daya mereka ke tengkuk tengkuk mereka sendiri, amin.

Akan datang kepadamu hadiah-hadiah dari tempat-tempat yang jauh, dan orang-orang banyak akan datang dari tempat-tempat yang jauh”

Benarlah yang demikian, karena untuk mendukung hadiah-hadiah (baca:pendapatan) kebenaran ilham-ilham tuhannya (baca: setannya) Mirza Ghulam telah mendapat ilham untuk mendirikan pekuburan khusus:

Demikian pula, berdasarkan ilham Ilahi, Hazrat Ahmad as. mengumumkan untuk membuat sebuah areal perkuburan khusus (Bahesyti Maqbarah), dan orang-orang yang akan dikebumikan disana harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Yakni mengurbankan paling sedikit 1/10 harta bendanya dan 1/10 dari penghasilannya setiap bulan untuk kepentingan Islam.”

Yang demikian itu adalah “harga yang pantas” untuk mendapatkan stempel surga dari nabi palsu Ahmadiyah dari India ini. Hazrat Ahmad as menjelaskan:

"Allah Taala telah memberi kabar suka kepada saya, bahwa di perkuburan itu hanya orang-orang ahli surga saja lah yang akan dikuburkan."

Tentu sepersepuluh harta benda dan sepersepuluh penghasilan tiap bulan bukanlah harga yang mahal bagi pengikut Ahmadiyah untuk mendapatkan tiket masuk ke surga!

“…dan orang-orang banyak akan datang dari tempat-tempat yang jauh” untuk mengkavling kuburan penghuni surga yang terletak di India!!

http://img131.imageshack.us/img131/1007/kavlingahlisurgadiindiaug5.jpg

Seperti pepatah …

Bil fulus kulli syai’in tembus fekuburan khusus kavling surga Qadianus
Laisal fulus mak nyus,
alamak bukan klan ahli surganya Yesus Kristus Qadianus!

Demikianlah, Ahmadiyah mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya demi sebuah aksi badut sirkus pamer aurat. Ahmadiyah telanjang bulat di panggung sejarah!


PENDAKWAAN DIRI SEBAGAI MASIH MAU’UD

http://img59.imageshack.us/img59/3005/udut6.jpg

Bashiruddin Mahmud Ahmad menuturkan:
Tetapi pada tahun 1891 telah terjadi suatu perubahan yang amat besar. Yakni Hazrat Ahmad as. diberi ilham oleh Allah Ta’ala bahwasanya Nabi Isa as. yang ditunggu-tunggu kedatangannya kedua kali kali itu telah wafat dan tidak akan datang lagi ke dunia ini. Kedatangan Nabi Isa kedua, adalah orang lain yang akan datang dengan sifat dan cara seperti Nabi Isa as., yaitu Hazrat Ahmad as. sendiri orangnya.

Ketika hal ini telah betul-betul jelas, dan ilham Ilahi berulang-ulang menyatakan supaya beliau as. mengumumkannya, maka mulailah beliau as. menjalankan kewajiban yang baru dan suci ini. Ilham tersebut turun ketika beliau as. berada di Qadian, lalu beliau menerangkan kepada anggota keluarga beliau bahwa kini beliau telah diserahi suatu kewajiban yang akan menimbulkan perlawanan dari orang-orang.

Setelah itu Hazrat Ahmad as. pergi ke Ludhiana, dan pada tahun 1891 mengumumkan pendakwaan sebagai Masih Mau’ud (Isa yang dijanjikan) melalui sebuah selebaran.”

Pendakwaan yang akhirnya dijiplak oleh Nabi palsu Michael Muhdats Al Masih Al Mau’ud dari Indonesia yang sekarang (walhamdulillah) mendekam bertahannuts di balik jeruji besi.

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1220

Nabi Isa telah wafat dan tidak akan datang lagi kedunia, demikian keyakinan Ahmadiyah. Keyakinan yang persis sama dengan keyakinan yang dimiliki Ahmad Syafii Ma’arif, sangat memilukan!

http://img104.imageshack.us/img104/2516/syafiiingkarsunnah1nd6.jpg

http://img87.imageshack.us/img87/7286/syafiiingkarsunnah2yd2.jpg

Keduanya, baik keyakinan Ahmadiyah maupun keyakinan Syafii Ma’arif adalah keyakinan yang bathil yang menyimpang dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. 
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Nabi Isa ‘Alaihis Salam masih hidup sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kitab Shahih (Bukhari dan Muslim -pen.) Dan akan turun sebagaimana telah tsabit dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

”Akan turun di tengah kalian Isa bin Maryam ‘Alaihis Salam sebagai hakim yang adil dan Imam yang bijaksana. Ia akan memecahkan salib-salib, membunuh babi-babi dan menggugurkan jizyah. (Bukhari Muslim)”. (Majmu’ Fatawa, jilid 4/322)

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah: “Ketahuilah bahwa hadits-hadits tentang Dajjal, dan turunnya Isa ‘Alaihis Salam adalah berita-berita yang mutawatir, waka kita wajib beriman dengannya. Jangan tertipu dengan orang-orang yang menyatakan hadits-hadits tersebut adalah hadits aahaad, karena mereka adalah orang-orang yang bodoh tentang ilmu ini. Tidak ada di antara mereka yang menelusuri dan meneliti hadits-hadits tersebut dengan jalan-jalannya. Kalau saja ada yang mau menelitinya, niscaya dia akan mendapati hadits-hadits tentang ini mutawatir, sebagaimana telah dipersaksikan oleh para ulama seperti Ibnu Hajar dan lain-lainnya.
Sungguh sangat disayangkan munculnya orang-orang yang lancang, terlalu berani berbicara pada perkara-perkara yang bukan pada bidangnya. Apalagi urusannya adalah urusan aqidah dan agama. (Takhrij Syaikh al Albani terhadap Syarh Aqidah ath Thahawiyah oleh Ibnu Abil Izzi al Hanafi, hal. 501)

Para ulama memasukkan masalah turunnya Isa ‘Alaihis Salam dalam kitab-kitab aqidah dan prinsip-prinsip sunnah yang mereka susun seperti Abu Ja’far ath-Thahawi Rahimahullah dalam Aqidah ath-Thahawiyah, Abu Bakar Muhammad bin Husein al-Aajurri Rahimahullah dalam asy-Syari’ah dan Imam Ahmad Rahimahullah dalam Ushuulus Sunnahnya.
Berkata Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’iy Rahimahullah (ahlul hadits dari negeri Yaman): “Hadits-hadits tentang turunnya Isa ‘Alaihis Salam dan keluarnya Dajjal menurut para ulama adalah mutawatir. Namun mereka yang menjalani jalannya Jamaluddin, orang Iran yang mengaku Afghani, sangat bermudah-mudahan dalam menolak dan mencerca hadits-hadits tersebut atau menyelewengkan maknanya kepada makna lain. Aku peringatkan kepada para penduduk Mesir dan tokoh-tokoh ulama Mesir untuk membersihkan negerinya dari pemikiran-pemikiran liberalis. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ruduud Ahlul Ilmi, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’i, hal. 25)
Berkata Qadli ‘Iyad Rahimahullah: “Turunnya Isa ‘Alaihis Salam dan dibunuhnya Dajjal olehnya adalah haq dan shahih menurut para ulama ahlus sunnah, karena hadits-hadits yang shahih dalam masalah ini. Dan tidak ada sesuatu pun yang bisa diingkari dalam syari’at maupun dalam akal yang sehat. Maka Wajib menetapkannya. (Lihat Syarh Shahih Muslim oleh Imam Nawawi, jilid 18, hal. 75)

Berikut bantahan lengkap terhadap kesesatan mereka:

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1025

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1189

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1212

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1219

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1215

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1214

Bahkan Mirza Ghulam Ahmad, demi ambisinya untuk menjadi actor yang menjiplak (baca: memerankan) dengan penuh totalitas karakter Isa Al Masih yang telah diberitakan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan turun di menara putih di sebelah timur Damaskus maka Mirza Ghulam Ahmadpun meresmikan pondasi pendirian menara itu!!

Jangan salah, menara tersebut tidak dibangun di Damaskus tetapi DiAMAinSirKUS menara di India!! Satu lagi, kain-kain penutup aurat Ahmadiyah ditanggalkannya sendiri demi ambisinya untuk menjadi pemain sirkus Yesus Kristus dari Qadianus.

Bukankah Ahmadiyah tahu bahwa Mirza Ghulam Ahmad akan mati dan tidak akan mungkin turun dari langit di menara putih sebelah timur Damaskus? Permainan sirkus berikutnya telah disiapkan dengan matang untuk berkelit dari problema manusia tak bersayap dari India ini. Bashiruddin Mahmud Ahmad berkilah:

Memang yang dimaksud oleh kabar ghaib itu sebenarnya adalah : Masih Mau’ud akan datang membawa keterangan-keterangan yang jelas dan tanda-tanda nyata, serta kegagahannya akan tampak ke seluruh dunia, dan beliau akan memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang. Menurut ilmu ta’bir ru’ya, menara berarti keterangan-keterangan yang tidak dapat dibantah oleh manusia. Berada di tempat tinggi yang dapat disaksikan oleh manusia. Menuju ke jurusan Timur berarti akan memperoleh kemajuan yang tidak dapat dihalangi oleh siapa pun juga.”

http://img216.imageshack.us/img216/8012/minaratulmasihww2.jpg

AWAL TIMBULNYA PERGOLAKAN DAN PENENTANGAN
Bashiruddin Mahmud Ahmad bercerita:

Pengumuman itu tersiar secepat kilat, dan di seluruh India timbul perlawanan serta kehebohan yang sangat hebat terhadap pendakwaan tersebut. Para alim ulama yang dahulu simpatik dan memuji, kini serentak berdiri menentang beliau as. Mlv Muhammad Hussein Batalwi yang dahulu dalam majalahnya Isyaatus Sunnah sangat memuji Hazrat Ahmad as., kini menggunakan segala kekuatannya untuk menentang beliau as. Dengan sombong dia berkata:

"Saya yang dahulu telah memajukan orang ini, maka saya lah sekarang yang akan menjatuhkannya. Yakni, dahulu karena pertolongan dan pujian dari saya lah orang ini mendapat kehormatan, dan sekarang saya akan menentangnya dengan gigih, sampai orang ini akan dibenci dan dihina orang-orang."

Mlv. Muhammad Hussein Batalwi bersama beberapa ulama lainnya pergi ke Ludhiana menantang Hazrat Ahmad as. untuk berdebat. Hal itu diterima oleh beliau as.. Tetapi dalam perdebatan itu, pihak mereka memakai bermacam cara untuk mengacau, sehingga acara itu gagal. Oleh karena keributan dan kekacauan tersebut, pihak yang berwajib memerintahkan Mlv. Muhammad Hussein Batalwi agar meninggalkan kota Ludhiana pada hari itu juga.

Untuk menghindari suasana yang tidak diinginkan, Hazrat Ahmad as. pun pergi ke Amritsar, dan setelah seminggu beliau kembali ke Ludhiana. Satu minggu beliau menetap disana, kemudian kembali ke Qadian. Beliau as. tinggal di Qadian untuk beberapa lama, kemudian pergi ke Ludhiana lagi untuk beberapa hari. Dari sana beliau terus ke Delhi.”

http://img74.imageshack.us/img74/5220/biangkerok2do5.jpg

http://img216.imageshack.us/img216/1161/biangkerokgw1.jpg

PERDEBATAN DELHI
Hazrat Ahmad as. tiba di Delhi pada tanggal 27 September 1891. Pada waktu itu Delhi dipandang sebagai pusat ilmu pengetahuan di seluruh India. Dan pihak lawan lebih dahulu telah menghasut penduduk Delhi menentang beliau as.. Maka dengan kedatangan beliau timbulah suatu keributan dan kegoncangan yang hebat. Para ulama menantang Hazrat Ahmad as. berdebat. Akhirnya mereka secara sepihak telah menetapkan Maulvi Nazir Hussein, tokoh Ahli Hadis, akan berdebat dengan Hazrat Ahmad as. di Masjid Jami’ Delhi. Sedangkan hal itu tidak diberitahukan kepada Hazrat Ahmad as..

Pada waktunya, datanglah Hakim Abdul Majid membawa kendaraan supaya Hazrat Ahmad as. berangkat ke Masjid Jamii’ untuk perdebatan itu. Hazrat Ahmad as. menjawab:

"Dalam keributan dan kekacauan yang begini hebat, jika belum ada pengawalan yang lengkap dari pemerintah, saya tidak dapat pergi ke tempat perdebatan itu. Lagi pula, masalah perdebatan serta syarat-syaratnya seharusnya telah dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan saya juga."

Atas jawaban ini, para penentang semakin ribut. Oleh karena itu, Hazrat Ahmad as. mengumumkan:
"Baiklah, Mlv. Nazir Hussein Delwi menyatakan dengan sumpah di Masjid Jami’, bahwa menurut ayat-ayat Al-Quran Nabi Isa as. masih hidup dan sampai sekarang belum wafat. Setelah sumpah itu, jika dalam tempo satu tahun Mlv. Nazir Hussein tidak mendapat suatu siksaan dari langit, maka boleh lah saya dianggap sebagai pendusta dan saya akan membakar seluruh buku saya."

Untuk hal itu Hazrat Ahmad as. telah pula menetapkan hari dan tanggalnya. Permintaan tersebut sangat menggelisahkan murid-murid Mlv. Nazir Hussein, dan mereka berupaya dengan berbagai cara untuk menghalangi persumpahan itu. Tetapi masyrakat umum mendesak Mlv. Nazir Hussein agar bersumpah bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah dusta dalam pendakwaanya.” [3]

http://img106.imageshack.us/img106/1571/perdebatandelhiup1.jpg

Penentangan yang keras dan kemarahan dahsyat umat Islam India yang timbul akibat pendakwaan Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Al Masih Al Mau’ud yang mendapatkan ilham-ilham langsung dari Allah Ta’ala tidaklah menyurutkan nyalinya untuk terus dengan lantang memproklamirkan pangkat kenabiannya, kenapa demikian? Dukungannya kepada kolonialis Inggris (lebih tepatnya kelahirannya yang dibidani penjajah Inggris untuk menghapuskan jihad umat Islam India), juga kemesraannya dengan kekuatan Hindu adalah modal besar yang tidak mungkin diremehkannya untuk menghadapi kekuatan dan kemarahan umat Islam India.

Apalagi, kedudukan Nabi Isa telah diopernya, dengan pengawalan 12 orang murid setia (Hawariyyun) yang telah dibai’at yang tak akan berani mengkhianati kenabiannya:

Pada waktu itu rakyat jelata berduyun-duyun berkumpul di Masjid Jami’ Delhi. Banyak orang memberi pandangan agar Hazrat Ahmad as. tidak usah pergi ke tempat itu, sebab diri beliau as. terancam dan mungkin timbul bahaya bagi diri beliau. Tetapi Hazrat Ahmad as beserta 12 orang sahabat beliau pergi juga ke tempat itu (Nabi Isa Israili dahulu juga mempunyai 12 orang sahabat/hawariyin, dan pada kejadian ini Hazrat Ahmad as. pun ditemani oleh 12 orang sahabat beliau).

Bagian luar dan dalam Masjid Jamii’ Delhi telah penuh sesak oleh massa, bahkan di tangga-tangga luar pun penuh dengan khalayak ramai. Dalam kerumunan puluhan ribu orang itu — yang sebagian besar berkumpul karena kebencian terhadap Hazrat Ahmad as. — telah naik darah dan gelap mata. Beliau as. dengan beberapa sahabat itu berjalan terus melalui kerumunan masa sampai ke tempat imam dalam masjid itu, dan beliau pun duduk disana. Seorang perwira polisi dengan seratus orang pasukannya telah berada di tempat untuk menjaga ketenteraman dan keamanan. Dari antara hadirin banyak pula yang membawa batu untuk melempar Hazrat Ahmad as..

Demikianlah Masih Mau’ud yang sekarang ini, seperti halnya Masih Israili dahulu juga terancam oleh para ulama dan pendeta. Hanya saja Masih Mau’ud as. ini bukan disalibkan, melainkan akan dirajam dengan batu-batuan.” [4]

Siapa sangka bahwa para ulama yang didukung oleh puluhan ribu umat Islam yang berhadapan dengan nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad ternyata “tidak berkutik” menghadapi nabi palsu dari India ini, kata Bashiruddin mempromosikan kehebatan bapaknya:
Dalam perdebatan itu pihak lawan menderita kekalahan. Tidak ada yang mau memperbincangkan masalah kewafatan Nabi Isa as.. Demikian pula Mlv. Nazir Hussein atau orang lainnya tidak berani bersumpah seperti yang dimintakan. Seorang advokat dari Aligarh bernama Khwaja Muhammad Yusuf, telah menerima tulisan iktikad dan pendirian Hazrat Ahmad as. yang akan dibacakannya di hadapan umum. Tetapi para ulama yang telah menyebarkan fitnah — bahwa Hazrat Ahmad as. tidak mempercayai Al-Quran, Hadis dan Junjungan Nabi Muhammad saw.– mereka takut bila tipu muslihat dan fitnah mereka itu terbongkar. Maka mereka terus menghasut, supaya masyarakat umum jangan sampai mendengarkan iktikad dan pendirian Hazrat Ahmad as. yang sebenarnya.

Atas hasutan mereka timbul-lah keributan dan kekacauan besar, sehingga Khwaja Muhammad Yusuf tidak dapat membacakan tulisan itu. Oleh karena keadaan begitu gawat, perwira polisi memberi peringatan untuk membubarkan pertemuan, dan melarang mengadakan perdebatan pada waktu itu. Polisi mengantar Hazrat Ahmad as. sampai ke luar pintu mesjid, dan ketika menunggu kendaraan, banyak orang berkumpul hendak membuat keributan. Lalu beliau as. naik kendaraan untuk pulang, dan polisi membubarkan massa yang ada”.

http://img148.imageshack.us/img148/4527/mirzamenangxp3.jpg

Demikianlah Ahmadiyah melukiskan kehebatan nabi palsunya serta keberhasilannya menjadi biang keladi keributan dan kekacauan besar di tubuh umat Islam India.

KAWIN MAWIN HARUS SESAMA AHMADIYAH
Maka, untuk menjaga “kedisiplinan” para anggota, demi menjaga kelanggengan ajaran Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad melarang wanita Ahmadiyah kawin dengan orang-orang di luar kelompoknya!

http://img148.imageshack.us/img148/1622/kawinsesamasajauv6.jpg

Bahkan, untuk membedakan antara umat Islam dengan pengikut Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad telah memutuskan untuk membuat KTP dengan agama yang berbeda dengan umat Islam, yakni KTP “Ahmadi Muslim”

http://img106.imageshack.us/img106/2314/ktpahmadimuslimka9.jpg

Apakah sudah selesai “kemenangan” Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya dalam memasang garis pemisah yang jelas antara Muslim dengan Ahmadi Muslim? Dan keberhasilan misinya dalam menyulut kemarahan kaum muslimin? Ternyata belum…

Pada tahun 1933 di kota Lahore India, terjadi huru-hara. Pada mulanya para Ulama bersama-sama kaum muslimin yang dikenal dengan sebutan — Golongan Ahrar –mengajukan appeal pada Pemerintah agar aliran Qadiani atau yang lebih dikenal dengan nama: AHMADIYAH, dinyatakan sebagai aliran non-Islam. Mereka juga minta agar Sir Zafrullah Khan, seorang tokoh dari kelompok Ahmadiyah, dipecat dari kabinet India [5].

Zafrullah Khan, disamping seorang negarawan terkenal, juga seorang diantara tokoh-tokoh Salvation Army Ahmadiyah yang giat menyusun kekuatan di kalangan atas, terutama mempengaruhi kalangan pemerintahan maupun militer.

Kepala pemerintahan daerah Punjab barat, tuan Mumtaz Daultana, enggan sekali untuk turun tangan, bahkan mengambil sikap bertolak belakang dengan keinginan para Ulama; Ia merasa akan mengakibatkan timbulnya kekeruhan dalam suasana politik di negerinya [6].

Bagaimanapun juga, pada akhirnya pertemuan dengan mereka tidak bisa dielakkan lagi. Dalam suatu perundingan yang lama, antara para ulama dengan perdana menteri Nazimuddin serta tuan Mumtaz Daultana, tokoh-tokoh dari pemerintahan India ternyata bersikap kaku, lamban bahkan menolak untuk mempertimbangkan tuntutan mereka.

Suasana hangat dalam pertemuan itu, kiranya telah menembus ke luar gedung sehingga meliputi massa kaum Muslimin yang sedang menunggu-nunggu hasil-hasilnya. Kegelisahan pada mereka telah merata, kesabaran telah lenyap, dan tanpa menanti lebih lama lagi, mereka mulai bergerak turun ke jalan-jalan mengadakan demonstrrasi. Kemarahan dan emosi membawa mereka, bagaikan arus yang menyisihkan setiap rintangan di depan bahkan kekerasanpun terjadi di sana-sini.[7]

Pemerintah cepat-cepat turun tangan. Melalui campur tangan militer, keadaan yang penuh ketegangan itu berubah menjadi keadaan yang mencekam dada, pekik dan tangis terdengar, ketakutan tampak pada wajah-wajah mereka. Suatu peristiwa yang sulit untuk dilupakan telah terjadi di tempat berkumpulnya kaum muslimin. Pada suatu ketika, sebuah jeep dengan kecepatan luar biasa mendadak muncul menerjang kea rah kelompok massa kaum muslimin sambil melepaskan tembakan-tembakan membabi buta. Maka jatuhlah korban yang tidak sedikit jumlahnya. Seorang Ahmadiyah yang fanatic berkata, “Peristiwa jeep itu adalah sebuah mukjizat, dan para penembak di dalamnya tidak lain adalah malaikat-malaikat Tuhan yang dikirim untuk menolong Ahmadiyah”[8]

Suatu kenyataan yang jelas ialah, pemerintah di India telah berdiri berat sebelah. Dalam suatu laporan tertulis yang disampaikan oleh hakim-hakim Mohammad Munir dan M.R. Kayani, dimana kedua orang tersebut menghakimi seluruh siding perkara-perkara Ahrar, ternyata isi laporan mereka sangat kabur serta merugikan umat Islam. Naseem Saifi, seorang tokoh Ahmadiyah Qadiyan, mengutip isi laporan tersebut sebagai berikut:

Jelas sudah, bila pemimpin-pemimpin Ahrar itu mengetengahkan pada publik hanya soal-soal perbedaan dalam agama, maka suguhan mereka itu tidak berpengaruh apa-apa. Akan tetapi, bila pada mereka diisukan bahwa Ahmadiyah telah menghina nabi Muhammad dengan cara mengumumkan kenabian baru sesudah kenabian akhir Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahkan nabi baru itu jauh lebih mulia, maka disinilah jebakan pemimpin-pemimpin Ahrar itu mengenai sasarannya dengan tepat. Umat muslimin akan tergugah, terkejut, bahkan murka mendengar pidato-pidato semacam itu” [9].

Sesudah laporan Munir dan Kayani tersebut, datang lagi laporan dari Badan Penyelidik Kejahatan Pemerintah yang nadanya lebih keras serta memberatkan pemimpin Ahrar. Ahmadiyah mengutip laporan tersebut:

Sesungguhnya para pemimpin Ahrar itu tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah bermain api. Mereka sedang membangkitkan kemarahan di kalangan umat Islam sedemikian rupa, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjadinya korban-korban jiwa, kerusakan-kerusakan, penghilangan dan lain-lain tidak dapat dielakkan lagi. Suatu tindakan kertas harus segera diambil!” [10]

Demikianlah tindakan tangan besi pemerintah telah merenggut jiwa kaum muslimin tidak yang sedikit. Sungguh patut disesalkan bahwa telah terjadi peristiwa tragis semacam itu; padahal benih-benih yang menyebabkan timbulnya api kemarahan umat sekaligus telah merenggut jiwa mereka yang tidak sedikit itu masih tetap bercokol.

Sudah selayaknya bila pemerintah India pada waktu itu menelaah jauh-jauh sebelumnya sebab-sebab dari timbulnya kemarahan kaum Muslimin. Bahwasanya apa yang telah diucapkan oleh pemimpin-pemimpin Ahrar itu, tidak semuanya fitnah semata-mata. Munculnya nabi baru sesudah kenabian akhir Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memang telah dipropagandakan oleh Ahmadiyah, dimana Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah itu sendiri yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru di kalangan ummat Islam. Justru inilah, nabi baru itu, benih diantara benih-benih yang ditanam Ahmadiyah, yang telah menimbulkan kemurkaan ummat mencapai puncaknya.

Tiga tahun kemudian, setelah terjadinya peristiwa Ahrar tersebut, filosof DR. Mohammad Iqbal [11], mengirim sepucuk surat pada Pandit Nehru, dimana dia mengutarakan pendiriannya terhadap Ahmadiyah. Isi dari surat tersebut yang bertanggal 21 Juni 1936, berbunyi:

"Sahabatku Pandit Jawahar Lal,
Terima-kasih atas surat anda yang telah kami terima kemarin. Pada saat saya menulis jawaban atas artikel-artikel anda, saya merasa yakin bahwa anda tidak menaruh minat apapun terhadap sepak-terjang orang-orang Ahmadiyah itu. Kendatipun demikian adanya saya menulis juga jawaban tersebut, ialah semata-mata didorong untuk membuktikan, terutama pada anda, bagaimana sikap loyalitas kaum Muslimin di satu pihak, dan bagaimana sebenarnya tingkah laku yang ditontonkan oleh gerakan Ahmadiyah itu. Setelah diterbitkan risalah kami, saya mengetahui benar-benar bahwa tidak seorang Muslimpun yang berpendidikan, menaruh perhatian atas asal usul maupun perkembangan ajaran-ajaran Ahmadiyah. Selanjutnya perihal artikel-artikel yang anda tulis itu, bahwasanya bukan saja penasihat-penasihat Muslim anda yang berada di Punjab yang merasa cemas, bahkan hampir di seantero negeri mereka semua cemas. Hal ini lebih membuat mereka gelisah, bila memperhatikan bagaimana orang-orang Ahmadiyah bersorak-sorai karena artikel anda itu. Tentu saja dalam hal ini surat kabar Ahmadiyah banyak membantu sepenuhnya timbulnya prasangka dan kecemasan-kecemasan itu. Namun demikian, pada akhirnya saya sungguh bergembira bahwasanya anda tidak sebagaimana yang kami cemaskan itu. Selanjutnya perlu saya utarakan di sini bahwa perhatian saya terhadap ilmu ke-Tuhanan, kurang. Akan tetapi saya mulai gandrung padanya ketika saya harus mengenal Ahmadiyah dari asal-usulnya. Ingin saya meyakinkan anda di sini, bahwa risalah yang saya tulis itu adalah semata-mata untuk kepentingan Islam dan India. Kemudian saya tidak pernah ragu untuk menyatakan di sini, bahwasanya orang-orang Ahmadiyah itu, adalah pengkhianat-pengkhianat terhadap Islam dan India.

Saya menyesal sekali tidak mendapat kesempatan menemui anda di Lahore. Saya jatuh sakit pada hari-hari itu dan tidak keluar dari bilik. Bahkan hampir selama dua tahun terakhir ini saya berada dalam keletihan dikarenakan sering jatuh sakit. Harap anda kabari saya bila anda datang lagi ke Punyab. Kemudian, apakah anda telah menerima surat saya yang berkenaan dengan usul anda mengenai penyatuan hak-hak kemerdekaan kaum sipil. Ketika anda tidak menyinggung lagi hal tersebut dalam surat anda, saya merasa kuatir bahwa anda tidak pernah menerimanya. Wassalam, sahabatmu,
Sd. Mohammad Iqbal. [12]

Apa sebab DR. Iqbal termasuk di antara mereka yang menyerang Ahmadiyah, bahkan menyatakan sebagai pengkhianat-pengkhianat terhadap Islam dan India? Justru pendirian inilah yang harus digaris-bawahi sebagai suatu problema yang patut diteliti sejauh mungkin. Ia sendiri tidak berkesempatan untuk menulis tentang dalih-dalih maupun dasar-dasar dari pernyataannya yang drastis itu secara luas, mungkin dikarenakan kesehatannya yang banyak terganggu.

Sebaliknya bagi pemerintah India, sudah sewajarnya bila pernyataan Iqbal tersebut dijadikan sebagai titik-tolak penelitian yang seksama terhadap gerakan Ahmadiyah. Setidak-tidaknya bertindak sebagai salah satu pembuka untuk mendengarkan suara-suara Ulama yang tidak diragukan identitas maupun kwalitasnya (tetapi demikianlah keadaannya bahwa orang-orang kuffar tidak akan mungkin membela apalagi melindungi Islam dan kaum Muslimin. Tentu saja sesama mereka memiliki kepentingan abadi agar Islam bergolak dan bergejolak dengan tetap berupaya memelihara dan melindungi Ahmadiyah agar tetap bisa “eksis” di tengah-tengah kehidupan umat Islam –ed).

Jika tidak, maka apa yang terjadi kemudian ialah timbulnya gerakan-gerakan estafet para Ulama maupun kaum muslimin yang bersikap menentang hadirnya aliran Ahmadiyah dalam tubuh Islam.

Bukti-bukti timbulnya gerakan-gerakan estafet telah ada. Peristiwa-peristiwa yang hampir sama dari sebab-sebab yang sama telah terjadi, mengambil tempat di anak benua India kembali.

KEMURKAAN ESTAFET
Bahwa biang keladi dan sebab utamanya terletak pada kegiatan Ahmadiyah yang mempropagandakan faham-faham kufur dan sesatnya yang bersimpang jalan itu atas nama agama Islam, tak diragukan lagi.

Peristiwa yang sama dan dari sebab-sebab yang sama telah terjadi lagi, mungkin suatu peristiwa yang akhir, akan tetapi mungkin juga bukan yang terakhir….

Pada tanggal 8 Juni 1974, di lslamabad Pakistan, telah terjadi demonstrasi kemarahan kaum Muslimin yang mencapai klimaksnya. Kali ini, peristiwa itu lebih banyak makan korban harta benda dan jiwa. Gerakan Ahmadiyah yang mula-mula menceritakan kejadian-kejadian tersebut, berkata:

"Sejak Minggu terakhir dari bulan Mei 1974 telah terjadi kerusuhan-kerusuhan di Pakistan. Dengan dihasut oleh kaum Ulama dan digelorakan oleh surat-surat kabar kaum Islam yang fanatik menjalankan tindakan kekerasan terhadap orang-orang dan harta benda milik jemaat Ahmadiyah di Pakistan, Orang-orang Ahmadiyah dibunuh dan masjid, rumah, toko, perpustakaan, pabrik, gudang dan klinik mereka dirampoki, dihancurkan dan dibakar. Boikot sosial dan ekonomi dilakukan terhadap orang-orang Ahmadiyah di seluruh Pakistan sehingga mereka tak dapat memperoleh bahan kebutuhan sehari-hari, bahkan air minum tak dapat mereka beli. Bayi-bayi juga menderita akibat boikot itu, karena susu untuk mereka tak bisa didapat" .[13]

Bahkan rentetan dari peristiwa itu lebih jauh lagi. Di luar Pakistan, dari kota Makkah Al-Mukarramah, telah datang keputusan Rabithah ‘Alam Islamy, menyatakan golongan Ahmadiyah sebagai golongan non Muslim serta melarang anggota-anggotanya naik haji. Jelas sudah, bahwa penyebab utama timbulnya kerusakan-kerusakan maupun korban jiwa itu datang dari Ahmadiyah sendiri. Aliran inilah biang keladi dari kemarahan ummat Islam yang tak terbendung lagi.

Sungguh sangat disesalkan telah terjadi peristiwa itu, akan tetapi sangat disayangkan bahwa pemerintah tidak mengambil inisiatif jauh-jauh sebelumnya, bahkan jauh sebelum peristiwa-peristiwa yang silam itu untuk men-stop aliran Mirza Ghulam dan menyatakan sebagai aliran non-Islam maupun membubarkannya sekaligus! (Tetapi bagaimana mungkin harapan ini bisa terwujud sementara Ahmadiyah justru dibentuk dan dilahirkan oleh penjajah Inggris di anak benua India untuk melanggengkan kolonialisasinya? Ahmadiyah telah menghapuskan Jihad kaum muslimin dalam melawan kekuasaan imperialisme mereka? –ed)

Sudah jelas, bila golongan kecil Ahmadiyah ini, bila dikaji faham-fahamnya, maupun aqidahnya ataupun hanya disebut-sebut namanya, akan menimbulkan bau tidak sedap dan menggelisahkan kaum Muslimin. Bahkan bisa terjadi kemarahan-kemarahan dan korban.

Sebaliknya dari peristiwa 1974 itu, gerakan Ahmadiyah sendiri mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda. Golongan ini berkata:

"Rahasia di non-Islamkannya Ahmadiyah, ialah sebagaimana yang diberitakan oleh harian — Imroz Lahore Pakistan, seperti berikut ini: Chiniot, 16 November (‘74). Menteri Kehakiman Propinsi merangkap urusan Parlemen, Sadar Asghar Ahmad,di hadapan rapat akbar di Jerwala mengatakan, bahwa partai rakyat (yang berkuasa di Pakistan) telah berhasil menyelesaikan masalah "Khataman Nubuwah" dengan cara yang amat bijaksana. Penyelesaian masalah ini merupakan kejadian besar sesudah peristiwa Karbala yang tercatat dalam sejarah Islam. Perdana Menteri Ali Butto telah berhasil menghancurkan siasat pemimpin-pemimpin opposisi dengan menyelesaikan masalah Qadiani itu!" .

Kelihatan belangnya bukan? Kita ini (Ahmadiyah) memang sudah tahu. Itulah sebabnya tidak pernah berkecil hati. Permainan politik memang begitu. Kaum opposisi di pemilihan umum mendatang (1975) di Pakistan ingin menjadikan masalah Ahmadiyah sebagai issue menarik untuk memperoleh suara. Tetapi Ali Butto bukan goblog. Dia tahu mental "alim-ulama" yang rakus kursi, berselimutkan agama ingin mencapai tujuan politis”[14].

Lebih lanjut Ahmadiyah berkata:
"Saudi Arabia atau Rabhitah kalau mencap Ahmadiyah non Islam tidak mengherankan. Itu biasa, asal jangan Tuhan yang me non-lslamkan" .[15]

Bahwa peristiwa di Pakistan itu merupakan tindakan kaum oposisi serta para Ulama dengan maksud untuk mencapai tujuan politis, itu adalah pendapat Ahmadiyah pribadi. Adalah sukar untuk diterima, bahwa ikut sertanya Organisasi Dunia Islam yang berkedudukan di Mekkah itu, termasuk dari rasa solidaritas atau bertindak dalam rangka membantu tujuan politis kaum oposisi di dalam negeri Pakistan. Melainkan yang logis dan mudah dimengerti, bahwa Rabhitah Alam Islamy telah me non-Islamkan Ahmadiyah dan sekaligus melarang anggota-anggotanya naik haji, ialah atas dasar-dasar pertimbangan serta penelitian yang seksama akan bentuk hakiki dari gerakan Ahmadiyah itu.

Ulama-ulama di Pakistan, India, atau dimana saja, melihat gerak-gerik Ahmadiyah tidak lagi dari segi-segi lahirnya, akan tetapi pada segi-segi bagian dalamnya.

Kenyataan dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan Ahmadiyah sendiri, bahkan semenjak fajar munculnya Mirza Ghulam Ahmad dan alirannya, sikap dan tindakan para Ulama selalu menentang keras padanya. Dari suatu pengamatan yang teliti, benih-benih yang ditanam Ahmadiyah di kemudian hari jauh berbeda-beda dari sebelumnya, ia lebih banyak menonjolkan merk Islamnya daripada sifatnya yang kompleks.

Syukur bahwa dari Ulama-ulama yang masyhur telah berhasil membuka selubung kulit Ahmadiyah serta mengurai-urai isi perut di dalamnya. Predikat Ulama yang ada pada mereka, lebih-lebih lagi sebagai putera-putera dari anak benua India, tidaklah menimbulkan keragu-raguan untuk menyatakan bahwa hasil-hasil tulisan mereka tentang kesesatan Ahmadiyah, adalah hasil dari sikap-sikap yang jujur, obyektif dan tidak emosional. Sehingga apa yang tidak jelas dari "Apa dan Siapa Ahmadiyah itu" menjadi jelas sejelas-jelasnya.

Namun demikian, kendati hasil telah dicapai, yaitu kesadaran kaum Muslimin terhadap aliran Mirza Ghulam Ahmad itu, akan tetapi pada kenyataannya pencapaian Ulama-ulama itu telah menjadikan Ahmadiyah semakin “pintar” untuk berkelit dan menghindar. Dengan hal-hal tersebut maka problema-problema baru yang tampaknya lebih segar dan logis, susul menyusul datang dari Ahmadiyah. Bagaikan suatu santapan yang dihidangkan pada kaum Muslimin, lebih sedap dipandang, lebih enak disantap dan lebih komplit dari yang sudah-sudah.

Ternyata Ahmadiyah telah sigap berdiri di atas kuda-kuda mereka, menanti setiap serangan maupun kritikan dari luar dan siap pula menangkis dan menyerangnya. Lebih jauh Ahmadiyah berkata:

"Memang, seperti di persada Indonesia ini, umpamanya, masih ada pula gelintiran manusia-buta yang menganggap Ahmadiyah itu sesat. Sekalipun mereka tak mampu membuktikannya menurut Qur’an dan Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tak pula mampu memperhadapkan "dalil-dalil"nya itu dengan Ahmadiyah, namun sekali-sekali terdengar pula cetusan hati-kotornya yang tak pernah membekas "yuridu li-yuthfi ‘u nurallahi bi-afwahihim" (mereka berhasrat memadamkan cahaya kebenaran Ilahy itu dengan mulutnya), tentu saja tak mungkin. Sebab itu untuk mereka tak lain ialah: "mutu bi-ghaidhikum" (benci dan dengkinya akan dibawa atau membawa mereka pada maut)". [16]

Akhirnya dengan lantang Ahmadiyah berkata:
"Anda orang berakal, bukan? Jangan mau diburung-ontakan oleh anasir-anasir yang memusuhi Ahmadiyah dengan cara lempar batu sembunyi tangan. Rata-rata mereka berkaok-kaok dari belakang Ahmadiyah tetapi tidak berani berhadapan. Mereka tahu akan kelihatan belangnya" .[17]

TANTANGAN RUTIN
Bahkan jika masih ada niat untuk berhadapan dengan Ahmadiyah, janganlah coba-coba melakukannya. Naseem Saifi, seorang tokoh Ahmadiyah kelahiran Qadian, dengan lantangnya berkata:

"Coba tunjukkan padaku, apa yang telah dicapai oleh mereka (Ulama-ulama) yang memusuhi Ahmadiyah itu? Adakah hasil yang mereka peroleh, ataukah mereka sanggup membendung masuknya orang-orang ke dalam Ahmadiyah?

Jelas sekali, mereka telah gagal, bahkan jika seribu satu macam kitab diterbitkan untuk menentang Ahmadiyah, mereka pasti gagal!" [18]

Dengan tantangan yang begitu gigih itu, maka Ahmadiyah dengan segala kerapiannya mempertontonkan diri di mata orang lain, dalam bentuk keIslamannya yang baik. Apa yang logis, yang segar dan mudah untuk dicerna kaum Muslimin, telah disuguhkan oleh Ahmadiyah. Lebih banyak kitab-kitab Ahmadiyah disertakan di dalamnya dengan catatan maupun mukaddimah, bahwa Syahadat Ahmadiyah adalah syahadat kaum Muslimin, bahwa rukun Islam dan rukun iman Ahmadiyah adalah sama dengan kaum Muslimin. Memang pada kenyataannya “sama”. Hal ini tidak perlu dibantah, bahkan Ahmadiyah menegaskan lagi:

"Ahmadiyah sehelai rambutpun tidak menyimpang dari ajaran Qur’an dan Sunnah Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam di seluruh dunia. Ahmadiyah melalui cara dan jalan yang dihalalkan oleh Islam dan dibenarkan oleh undang-undang dan peraturan yang berlaku di mana Ahmadiyah berada dengan menekankan: mengirimkan muballigh-muballighnya ke seluruh dunia; menyiarkan Al-Qur ‘an dalam berbagai bahasa yang hidup di dunia seperti bahasa-bahasa: Inggris, Jerman, Perancis, Italy, Belanda, Spanyol, Scandinavia, Persia, dan lain-lain; mendirikan masjid-masjid di seluruh dunia termasuk masjid-masjid di Eropah, Amerika Serikat, Afrika dan lain-lain; menyiarkan buku-buku secara cuma-cuma tentang berbagi masalah seperti perbandingan agama, sistim ekonomi dalam Islam, Kapitalis dan Komunis. Dan seterusnya” [19]

Excelent dan menyilaukan bukan? Justru karena inilah, maka usaha-usaha untuk menemukan bentuk yang lama dari Ahmadiyah yakni bentuk aslinya, akan mengalami. kesulitan dan mungkin kegagalan seperti yang dilantangkan Naseem Saifi di atas.

Karena pedoman atau hujjah agama yang dipakai para Ulama, Ahmadiyah kemudian berputar haluan, berganti taktik, merubah sikap dan menutup segala kemungkinan dari pihak luar untuk mengenal asal-usul maupun bentuknya yang semula.

Ini terbukti dari adanya kegiatan missi Ahmadiyah yang lebih banyak menonjolkan kerja dan jasa atas nama Islam daripada mengungkap-ungkap lagi perihal kedudukan maupun jabatan-jabatan pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad. Sudah tentu, dari suatu organisasi yang telah teruji melewati “medan perang” melawan dan berkelit dari serangan umat Islam India, lebih-lebih dengan keuangannya yang padat, Ahmadiyah sanggup menonjolkan dirinya sebagai organ Islam yang militan.

Tetapi, di balik upaya keras dan sungguh-sungguh dari pihak Ahmadiyah untuk menutup segala sisi-sisi masa lalunya di hadapan kaum muslimin, kejujuran “pihak lain” akan sedikit mengungkap kontribusi aliran ini bagi misi agama kafir mereka. Banyak pujian-pujian datang dari para Orientalist, antara lain yang perlu disebut di sini ialah Prof. H.A.R. Gibb, seorang Guru besar bahasa Arab pada Universitas Oxford dan Harvard. Gibb berkata tentang Ahmadiyah:
"Ahmadiyah adalah gerakan yang giat melawan penyiaran Agama Kristen baik di Indonesia, di Afrika selatan maupun di Timur dan Barat". [20]

(Kita akan menyaksikan bahwa ucapan Gibb di atas bukanlah suatu bentuk resistensi dari seorang orientalis Kristen yang merasa terancam agamanya dari serangan Ahmadiyah, akan tetapi sebuah taktik “jitu” untuk semakin memuluskan jalan bagi Ahmadiyah untuk menghancurkan dan mengobrak-abrik aqidah Islamiyah, pun agar tidak dicurigai oleh kaum muslimin dalam mencapai upaya tersebut. Bagaimana dikatakan “giat melawan agama Kristen” jika kelahiran “bayi” ini justru dibidani oleh penjajah Kristen (Inggris) itu sendiri? –ed)

Tidaklah penting untuk memperbanyak halaman-halaman di sini dengan mengutip berbagai pujian terhadap Ahmadiyah, melainkan yang penting untuk dicatat ialah hasrat terpendam yang ingin dicapai Ahmadiyah, yaitu menarik orang-orang, baik yang belum memeluk Islam maupun yang sudah Muslim pada aliran Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian, dari setiap pribadi yang kena pengaruh itu, dimintanya untuk berbai’at, setia, dan taat serta meyakini seluruh pangkat, gelar dan kedudukan yang dimiliki Mirza Ghulam tanpa mempersoalkannya lagi.

Lebih daripada itu, aliran Mirza Ghulam Ahmad ini telah menyatakan dirinya sebagai Organisasi bentukan Tuhan [21], sebagai Islam sejati [22] dan sebagai "illa wahidah" hanya satu yang masuk surga dari 73 pecahan ummat Islam itu. [23]

Karenanya, kedudukan illa wahidah pada gerakan Ahmadiyah itulah, telah mendorong orang-orang Ahmadiyah untuk melakukan tugas suci meng-Islamkan kembali kaum Muslimin, atau dengan kata lain (yang lebih tepat), meng-"Ahmadiyah"kan mereka.

Jelas, di sinilah letaknya benih pemecah-belahan kesatuan Islam serta mengobrak-abrik ketentraman umat dan suatu upaya sistematis dan terencana untuk melakukan pembusukan iman ummat Islam.

Maka tidaklah ragu untuk menyatakan bahwa pujian-pujian yang datang dari orang-orang kafir Barat kepada Ahmadiyah adalah semata-mata untuk tujuan melindungi dan menyuburkan benih-benih pemecah dan pengacau iman Islam.

Di Indonesia, hampir di setiap kota-kota besar, Ahmadiyah dapat memperoleh tempat yang subur buat pertumbuhannya. Meskipun gerakannya lambat namun aliran ini kian hari kian meluas serta membawa bekas. Bahkan di suatu tempat di Jawa Barat, dekat kota Cirebon, sebuah desa atau kecamatan bernama Kayu Manis, Ahmadiyah telah menjadikannya sebagai proyek daerah tauladan, dimana hampir seluruh penduduknya di sana menganut faham yang diajarkan Mirza Ghulam.

Juga dengan cara berdiskusi sambil lalu, dalam kelompok-kelompok kecil baik dengan golongan awam sampai pada golongan mahasiswa, ataupun mampir bertamu ke rumah teman-teman, gerakan Ahmadiyah aktif menyuguhkan ajaran-ajarannya dengan kemasan yang “menarik”. Sekian jauh mereka telah berhasil menanam benih-benihnya. Di Indonesia, di Afrika selatan, di Eropa maupun di Amerika, Ahmadiyah menonjolkan dirinya dengan masjid-masjid, madrasah-madrasah, poliklinik-poliklinik dan perpustakaan-perpustakaan mereka.

Bukti-bukti inilah mungkin yang menjadi sebab, sehingga penulis dari Majalah Tempo, saudara Syu’bah Asa, yang mungkin juga masih ajar kenal dengan Ahmadiyah, telah menulis:

"Bahwa lebih penting daripada mengemukakan ajaran Ahmadiyah dalam perbandingannya dengan faham kaum Muslimin (yang kontra) ialah usaha mencatat perkembangan alam pikiran keagamaan di Indonesia sebagai suatu bagian dari sejarah kita dimana ajaran Ahmadiyah ternyata mempunyai bekas yang bisa diraba meskipun nyaris tak pernah disinggung. Bahkan dengan asumsi pertama bahwa dari mereka banyak bisa diambil hal-hal yang elok menunjukkan kedudukan ajaran ini dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia". [24]

Jalan pikiran Syu’bah Asa tersebut di atas sebenarnya merupakan garis-garis sentuhan baru dari Ahmadiyah terhadap mereka yang masih belum mengenalnya. Dengan cara-cara yang menarik dan fleksibel, Ahmadiyah berusaha memperlunak diri daripada kekerasan mengisolir dirinya; Mungkin suatu usaha berkompromi telah disodorkan ke tengah-tengah masyarakat Muslimin, dengan penuh harap pada mereka yang berada di luar Ahmadiyah, agar tidak berjerih payah atau meneliti ke dalam rumahnya atau memikirkan sebab-sebab, sehingga Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyah itu, telah memiliki gelar-gelar pangkat dan kedudukan begitu kompleks dan penuh; Bukan, bukan itu yang Ahmadiyah inginkan, tetapi agar umat dipalingkan dari sejarah kelahiran dan sepak terjang masa lalunya, kemudian dimintanya untuk menaruh perhatian yang seksama akan bukti-bukti maupun kenyataan-kenyataan yang telah dicapai oleh Ahmadiyah dengan sukses-sukses misinya. Itulah harapan Ahmadiyah!

Apakah mungkin bagi kaum muslimin mengabaikan begitu saja akan pangkat-pangkat, gelar-gelar dan kedudukan Mirza Ghulam? Padahal pengikut-pengikut Ahmadiyah sendiri meresapkan ke dalam dada mereka seluruh pendakwaan pemimpinnya itu.

Dan bagaimana mungkin kita mengabaikan begitu saja permasalahan ini berlalu, padahal untuk pangkat-pangkat itulah justru Mirza Ghulam Ahmad muncul di tengah-tengah kaum Muslimin, dengan berbagai-bagai alasan demi kepentingan dirinya. Bahkan dalam keterangan-keterangan pendakwaannya itu, Mirza Ghulam maupun Ahmadiyahnya membuat suatu surprise di kalangan kaum Muslimin, dengan mengemukakan dalil-dalil al Qur’an dan Hadits, meskipun cara-cara pemakaian maupun pengertiannya, sangat dipaksa-paksakan.

AHMADIYAH DALAM PELUKAN ORIENTALIS SALIBIS
Sukses yang dicapai Ahmadiyah mungkin dapat mengaburkan pandangan kaum Muslimin, akan tetapi tidak demikian pada pandang Ulama-ulama. Justru sebaliknya, dari sukses yang dicapai Ahmadiyah itu timbullah kecurigaan Ulama-ulama terhadapnya. Kelahirannya yang baru kemarin, ditimang-timang dan disuapi oleh kolonialis Inggris di saat kaum muslimin India berperang menghadapi penjajah tersebut, bangunnya yang kesiangan dan daerah-daerah yang dibabatnyapun bukan hutan lagi, adalah sebab-sebab diantara sebab timbulnya rasa curiga.

Adalah sebuah hal yang aneh, setelah Gibb, orientalis Kristen besar tersebut menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah gerakan untuk melawan agama Kristen di berbagai belahan dunia, tetapi justru orientalis inipun mengakui, dengan cara apa agama Kristennya dilawan. Gibb menjelaskan:

Gerakan Ahmadiyah mulai melangkah sebagai suatu gerakan Liberal dan gerakan pembaharuan yang bersifat damai yang membawa minat ke arah satu langkah baru kepada mereka yang sudah kehilangan kepercayaannya dalam agama Islam yang tua. Pendiri gerakan ini, Mirza Ghulam Ahmad tidak saja mengaku sebagai Mahdi dari Islam dan Messiah dari Kristen akan tetapi juga sebagai penjelmaan (Avatar) dari Krishna”

G bb kemudian menambahkan:
Bahwa gerakan Ahmadiyah ini adalah gerakan Sinkretis sebagai reaksi terhadap gerakan Aligarh, dimana Mirza Ghulam Ahmad menuntut sebagai pembawa wahyu untuk menafsirkan baru Islam bagi keperluan zaman baru…” [25]

(Itulah Gibb, guru besar dari para komunitas JIL yang mencomot begitu saja sampah-sampah “Liberal” dari para kakek-kakek orientalis kafir tersebut untuk kemudian dilekatkannya kehinaan dan kenajisan tersebut kepada Islam yang mulia. Baru kemudian mereka menamakan gerakan sinkretismenya sebagai Jaringan Islam Liberal. Benar bahwa mereka ini pada asalnya bukanlah siapa siapa sampai kemudian mereka mengencingi mata air-mata air kemuliaan Islam untuk menggapai kemasyhuran dunia dalam waktu yang singkat dan cepat. Tidak ada jalan pintas yang lebih cepat untuk menggapai kemasyhuran dan menuai pujian dari orang-orang kuffar kecuali dengan cara mengencingi mata air kaum Muslimin. Semua orang akan menoleh dan menyaksikan, siapa orangnya yang tanpa rasa malu telah mengencingi mata air kemuliaan Islam itu? Ternyata Jaringan Iblis Laknatullah, dan demikian memang pekerjaan syaithan dan balatentaranya. Itulah tugas yang diemban oleh jaringan Ulil Abshar dan pendahulunya, Nurcholis Madjid.

Walhamdulillah, Allah telah membinasakan pendahulunya ini dengan kanker hati yang menggerogoti tubuhnya sampai kematian menjemputnya setelah sekian banyak manusia digerogoti hati-hati mereka dengan kanker liberalis untuk kemudian dijerumuskannya ke dalam kesesatan dan kekafiran. Na’udzubillahi min dzalik. Allahul Musta’an.

Tidaklah heran jika JIL bersama jaringan-jaringan yang tergabung dalam anak pungut dan anak asuh kolonialis orientalis kafir sekarang bahu membahu melawan pemerintah yang berupaya untuk menutup dan melarang agama Ahmadiyah yang juga hasil produk orientalis kolonialis kafir. Atas nama HAM (Hak Asasi Manusia) mereka meneriakkan perlindungan terhadap gerakan pengkafiran dan pemurtadan umat Islam. Atas nama Hak Asasi Manusia mereka melindungi gerakan penistaan terhadap Islam, Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!

Wallahi, demi Allah apakah mereka lupa (atau tidak mau tahu) bahwa umat Islampun juga memiliki HAM (Hak Asasi Muslim) untuk mempertahankan kemuliaan Islam, menjaga kehormatan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari setiap serangan dan rongrongan baik dari golongan manusia dan jin. Maka keliru besar kalau orang-orang kuffar dan para gundik-gundik kekafiran itu akan menyangka bahwa umat Islam akan diam berpangku tangan sementara mereka bebas melecehkan dan menghinakan kesucian Islam, Al Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya!!

Kalau mereka menganggap bahwa adalah hak asasi setiap manusia untuk mengobrak-abrik Islam dan menistakan Qur’an dan Sunnah dan ini adalah hak yang harus dilindungi, sementara kaum muslimin dilarang untuk marah dan tersinggung, maka ini adalah jual beli yang tidak adil!! Sekali lagi, umat Islam berHAM dan bahkan wajib untuk membela agamanya dari serangan-serangan orang kafir dan gundik-gundik mereka!!

Sungguh kita sangat mengharapkan agar para pemimpin muslim kita digerakkan dan dikokohkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala agar melindungi Islam dan kaum muslimin dari serangan-serangan orang-orang kafir dan balatentaranya. Kita kaum muslimin akan tegak berdiri di belakang mereka. Tidak ada yang kita lakukan kecuali berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kebaikan selalu tercurah pada pemimpin muslim kita. Baiknya mereka adalah kebaikan bagi kita umat Islam yang mayoritas di negeri tercinta.

Sesungguhnya mereka, Ahmadiyah, JIL dan slogan-slogan Hak Asasi Manusia walau memiliki baju yang berbeda-beda, akan tetapi tak bisa dipungkiri bahwa mereka-mereka ini adalah anak didik kafir orientalis kolonialis. Mereka inilah gundik-gundik orientalis salibis kafir! Kita tidak akan memperpanjang dan membahas seruan kekafiran yang lantang mereka teriakkan. Cukuplah apa yang telah ditulis oleh ustadz Qamar Sua’idi yang berjudul “Agar Tidak Menjadi “Muslim“ Liberal” yang diterbitkan oleh Pustaka Qaulan Sadida Malang sebagai bom atom untuk menelanjangi kesesatan dan jejak-jejak kekafiran yang mereka serukan kepada umat Islam! Semoga Allah memberikan manfaat yang banyak bagi kaum muslimin Indonesia dengan kehadiran buku ini.

Untuk sedikit menghapus rasa penasaran pembaca, berikut kami nukilkan isi otak Ulis Abshar Abdalla, si “gundik orientalis yahudi salibis kafir” yang dinukil ustadz Qmar di dalam buku beliau. Ulil si gundik kafir berkata tentang umat Islam yang begitu memegang teguh serta memuliakan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Kenapa teks menempati supremasi yang begitu tinggi dalam agama kita, jelas ini berkaitan dengan suatu “wawasan teologis” yang tidak remeh dan untuk membongkarnya diperlukan keberanian yang besar” (Agar Tidak…hal.251)

Perhatikanlah wahai saudaraku yang beriman kepada Allah Ta’ala ajakan si gundik salibis kafir ini untuk “membongkar” kemuliaan dan kesucian Al Qur’an dan Sunnah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!

Gundik salibis kafir ini terheran-heran dengan kedudukan Al Qur’an dan Hadits di sisi kaum mukminin, katanya: “Amat mengherankan bahwa teks mempunyai “gravitasi” yang begitu hebat di kalangan umat” (ibid)

Dengan nada mengejek, si gundik kafir ini berkata: “atas suatu asumsi yang agak lucu: semakin harafiah kita memahami sabda Tuhan, semakin dekat kita kepada kehendak-Nya; semakin kita asyik dan sembrono dalam “ta’wil” atau penafsiran non-literal, maka semakin jauh kita dari kehendak-Nya yang benar”

Iapun akhirnya menegaskan ajakannya untuk meninggalkan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kemudian digantinya dengan mempermainkan maknanya seenak perut JIL!!

Inilah ajakan si gundik kafir salibis: “Apakah demi mengikuti perkembangan yang terus berubah, kita boleh meninggalkan makna lahiriah teks atau tidak. Sejauh mana teks agama bisa tetap dipertahankan dalam pengertiannya yang lahiriah? Pada batas mana kita bisa mengatakan “selamat tinggal” kepada makna lahiriah teks itu? Dimanakah persisnya kita dengan hati yang tenang bisa mengatakan bahwa makna literal dari Teks Agung (Qur’an dan Sunnah) bisa kita tinggalkan, digantikan makna lain yang non-literal, yang lebih sesuai dengan kebutuhan manusia?”

Dan lihatlah wahai saudaraku yang beriman bagaimana si gundik salibis kafir ini menghina kaum muslimin yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah sebagai orang-orang yang terjebak pemahaman lingkaran syaitan: “Jika tidak ada suatu upaya untuk membongkar wawasan teologis yang menempatkan teks dalam posisi yang begitu sentral semacam itu, maka lingkaran syaitan pemahaman keagamaan yang “alkitabiah” atau skripturalis tidak akan bisa diatasi Bibliolatri akan terus membayang sebagai ancaman yang tidak bisa dihindarkan” (ibid, hal.251-252)

Pada akhirnya, Al Qur’anul Karim, wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tetap terjaga kemurnian dan kesuciannya dihinakan sehina hinanya oleh si gundik salibis kafir ini: “Seolah-olah yang disebut dengan Al Qur’an hanyalah ayat-ayat yang tertera dalam mushhaf saja. Asumsi ini juga tidak bisa kita terima. Mengandaikan bahwa Al Qur’an adalah sekedar teks yang tercantum dalam mushhaf, sama saja dengasn mengandaikan bahwa Qur’an hanya teks yang mati belaka….Gerakan-gerakan Islam yang memperjuangkan agar umat kembali kepada “teks”, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang mengajak umat merujuk kepada suatu dokumen wahyu yang sudah kehilangan konteksnya”.

Demikianlah, kekafiran demi kekafiran diserukan oleh Ulil Abshar dan jaringan Iblis Laknatullah-nya yang kalau saja ucapan ini diucapkan oleh orang-orang kafir, tentulah seluruh dunia Islam akan menyambut seruan keji dan kufur ini dengan kemarahan yang tiada terkira. Betapa tidak, Al Qur’anul Karim yang disucikan oleh segenap kaum Muslimin telah dihinakannya sedemikian rupa. Tetapi demikianlah, para orientalis salibis kafir telah belajar dari sejarah, lebih mudah bagi mereka untuk menyuapi gundik-gundik simpanan yang dilahirkan oleh ibu-ibu kaum muslimin, kemudian mendidik mereka di madrasah-madrasah kekufuran untuk selanjutnya mengembalikan mereka ke tengah-tengah kaum muslimin dengan tugas mengobrak-abrik umat Islam dari dalam.

Semoga Allah menghancurkan makar-makar busuk mereka dan semoga Allah menghinakan Jaringan Iblis Laknatullah sehina-hinanya, amin.

Semoga Allah melindungi para pemimpin muslim kita dari makar dan rencana jahat mereka. Dan semoga Allah meneguhkan dan menguatkan para pemimpin kita dalam melindungi umat Islam dari makar jahat mereka pula.

(Bersambung edisi kedua Insya Allah tentang Ahmadiyah Sebagai Sincretisme Agama)

Footnote:

[1] Kewafatan Ayah & Ilham Pertama, www.Ahmadiyya.or.id ,

[2] ibid

[3] Perdebatan Delhi, www.ahmadiyya.or.id , http://www.alislam.org/indonesia/pustaka/riwayat/ahmad-2.htm#Bai%27at%20Pertama

[4] ibid

[5] I.H. Qureshi, a Short History of Pakistan, 1967, University of Karachi, hal.

245 : ( suddenly they reentered public life with their old demand for having the Qadianis declared non Muslim….Without waiting for the result they started a vigorous agitation for the removal of Zafrullah Khan, a recognised leader of the Qadiani community, from the central Cabinet.).

[6] Syed Sharifuddin Pirzada, Evolution of Pakistan, 1963, Lahore, The All

Pakistan Legal Decisions, hal. 404: (The chief minister of West Punjab, Mumtaz Daultana, was not reluctant to take any vigorous stand against it because he felt that it would be politically dangerous…..).

[7] I.H. Qureshi, a Short History of Pakistan, hal.245 (The agitation grew in violence and threatened to destroy ordered life)

[8] Ucapan seorang Ahmadiyah bernama Mohammad Idris dengan alamat Gg. H. Murtadho XII/A.280 Matraman, Jakarta. Bekerja pada perpustakaan kedutaan Pakistan Jakarta. Ia tinggal di India selama 12 tahun, berada di Lahore ketika peristiwa Ahrar tersebut terjadi.

[9] Naseem Saifi, Our Movement, Lagos, The Islamic Literature, 1957, hal. 14: )if they had carried on this religious controversy, as other religious controversies are carried on, they not have perhaps attracted much support. But they clever enough to recognize that the feelings of at musalman are nowhere more casily and bitterly arused and his indignation awakened than over a real or fanciful insult to the Holy Prophet. They therefore, began to give out that their activities were meant to preserve the nubuwat of the Holy prophet and to repel attacks on his namoun (honor) which had been made bay Ahmadis in propagating the belief that appeared who claimed not only to be equal superior to the Holy Prophet. The trck succeeded…)

[10] Naseem Saifi, ibid, hal.16 (The D.I.G., C.I.D. said in his report: The Ahrar leaders probably do not realize that they are playing with fire. Acertain amount of buffoonery can be overlooked, but where feelings are inflamed to such an extent that the murders, riots, the heaping of insult, etc; are threatened, a halt must be called!)

[11] Filosof, Penyair India. Terpengaruh ide humanisme yang terkandung dalam karya-karya bangsa sekuler Eropa, misalnya bahwa “Kisah Al Qur’an mengenai penurunan manusia pertama di muka bumi bukan berarti bahwa ia merupakan manusia pertama di muka planet bumi ini” (mirip dengan pemikiran aqlaniyah mu’tazilah Ir. Agus Musthofa, lulusan Teknik Nuklir UGM, mantan wartawan Jawa Pos yang banting setir menulis buku-buku bertema agama seperti Energi Pusaran Ka’bah dll yang sarat dengan pemujaan terhadap akal, menafsirkan ayat-ayat dengan teknologi dan berbagai kerancuan paham materialisme).

Iqbal, dalam karyanya yang berjudul Reconstruction of Religious Thought in Islam berusaha memadukan ide-ide modern filosof-filosof Barat seperti Bergson dan Nietzsche dengan prinsip-prinsip yang terdapat di dalam Al Qur’an. Allahul Musta’an.

Berkata Imam Syafi’i terhadap orang-orang seperti ini:

Hukumanku terhadap ahlul kalam adalah hendaknya mereka dipukul dengan pelepah kurma dan dengan sandal-sandal serta diarak keliling kabilah-kabilah dan diucapkan: “Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan al Kitab dan as Sunnah serta berpaling kepada ilmu kalam”.[Syarah Ath Thahawiyah, hal.72]

Imam Ahmad mensifati ahlul kalam: “Mereka adalah ahlul bid’ah, mereka berselisih dalam al Kitab dan mereka menyelisihi al Kitab, mereka bersepakat untuk memisahkan diri dari al kitab, mereka membicarakan al kalam yang mutasyabih dan mereka menipu kalangan bodoh dari manusia dengan apa yang terperangkap didalamnya ”.[ Muwafaqatu Shahihil Mankul lish Sharihil Ma’qul, Ibnu Taimiyah 1/23] –ed.

[12] Syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal, Lahore, 1964, SH. Mohammad Ashraf Lahore Hal. 306: (My dear Pandit Jawahar Lal, Thank you so much for your letter which I receieve yesterday. At the time I wrote in reply to your articles I believed that you had no idea of the political attitude of the Ahmadis. Indeed the main reason why I wrote a reply was to show, espesially to you, how Muslim loyalty had originated and how eventually it had found a revelational basis in Ahmadism: After the publication of my paper I discovered, to my great surprise, that even educated Muslim had no idea of the historical causes which shaped the teachings of Ahmadism. Moreover your Muslim advisers in the Punjab and elsewhere felt pertubed over your articles as they thought you were in sympathy with the Ahmadiyya movement. This was mainly due to the fact that the Ahmadis were jubilant over your articles. The Ahmadi press was mainly responsible for this misunderstanding about you. However I am glad to know that my impression was erroneous. I myself have little interst in theology but had to dabble in it a bit in order to meet the Ahmadis on their own ground. I assure you that my paper was written with the best of intensions for Islam and India. I have no doubt in my mind that the Ahmadis are traitors both to Islam and to India.

I was extremely sorry to miss the opportunity of meeting you in Lahore. I was very ill in those days and could not leave my room. For the last two years I have been living a life practically of retirement on account of continued illness. Do let me know when you come to the Punjab next. Did you receive my letter regarding your proposed union for Civil liberty? As you do not acknowledge it in your letter I fear it never reached you, your sincerely, Sd. Mohammad Iqbal.

[13] Bulletin Ahmadiyah, al-Hisyam, Jemaat Ahmadiyah Ujung Pandang, no.23/24 th. 1974, hal. 2/3.

[14] al-Hisyam, no. 25, 1974, hal. 3/7.

[15] al-Hisyam no. 25, 1974, hal. 3.

[16] Saleh A, Nahdi, Ahmadiyah di Mata Orang Lain, 1971, Rapen Makassar, hal. 3.

[17] Bulletin al-Hisyam, no. 23/24, 1974, hal. 5.

[18] Naseem Saifi, Our Movement, hal. 8.

[19] Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah Membantah Tuduhan-Tuduhan Ustadz Bakry Wahid B.A. Ujung Pandang, Djema’at Ahmadiyah Indonesia, 1972, hal. 4

[20] Gibb, Aliran-aliran Modern dalam Islam, terjemah L.E. Hakim, Jakarta Tinta Mas 1954, hal. 77.

[21] Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah di Mata Orang Lain, hal. 7

[22] Saleh A.Nahdi, Ahmadiyah Membantah Tuduhan Wahid Bakry, hal. 14.

[23] Majalah bulanan Ahmadiyah, Sinar Islam, Jajasan Wisma Damai, no. 13.

th. XV/1965, hal. 34; Saleh Nahdi, Ahmadiyah Membantah Wahid Bakry, hal. 99.

note: di majalah Sinar Islam tersebut Ahmadiyah menyebut angka 75 pecahan

ummat Islam, akan tetapi dibantah oleh Wahid Bakry, 73 saja, manakah yang dipakai oleh Ahmadiyah dari dua angka yang berbeda itu?

[24]. Tempo, 24 Sept. 1974, no. 29, Jakarta Grafiti Pers, hal. 3/50.

[25]. Gibb, Islam dalam Lintasan Sejarah, hal.153; dan lih. Gibb, Aliran-Aliran Modern dalam Islam, 1954, Jakarta, Tinta Mas, terjemah L.E. Hakim, hal.77

Adapun tentang Sayyid Ahmad Khan, beliau adalah pendiri sekolah ‘Aligarh”. Sekolah ini selanjutnya menjadi Universitas Aligarh. Sayyid Ahmad Khan loyal terhadap pemerintah Inggris, namun ia menentang Kristenisasi yang telah merajalela di benua India di bawah naungan imperialisme. Meskipun Ahmad Khan banyak menulis buku-buku yang menentang musuh-musuh dan membela Islam, namun ia kehabisan tenaga dalam menghadapi misi Kristen yang terencana. Dia berlindung di belakang penakwilan nash-nash agama, berpegang pada logika dan bukti sebagai pembelaan terbaik terhadap Islam. Jika kita mengkaji sejarah Islam India, kita dapati bahwa manhaj Sayyid Ahmad Khan yang berdasarkan logika dan kodrat manusia serta tidak terikat dengan berbagai kaidah dan prinsip itu telah membuka lubang pada bangunan Sunnah. Bahkan pendapat-pendapatnya yang bebas berkenaan dengan tafsir dan hadits merupakan sebab timbulnya penolakan sunnah di benua India.

Beberapa cendekiawan terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Ahmad Khan mengenai penolakan terhadap Sunnah. Al Maulawi Jiragh Ali, Abdullah Al Jukrawali, Ahmad Din Al Amritsari. Penyakit ini menyebar ke barisan umat Islam dan semakin kritis seiring berlalunya waktu. Sangat disayangkan bahwa Sayyid Ahmad Khan dianggap sebagai salah satu pemimpin pembaharuan agama di zaman modern, khususnya di anak benua India. Pemikirannya ini mendapatkan dukungan dan pembelaan dari orientalis dunia. Gibb, dalam bukunya Ila Yattajihu Al Islam telah mencela umat Islam India karena menjauhi gerakan pembaharuan yang dipelopori oleh Sayyid Ahmad Khan. Gibb berkata:

:Sangat disayangkan, sebagian besar umat Islam fundamentalis –lebih-lebih di India—masih tidak mau tunduk pada gerakan-gerakan pembaharuan yang menyejukkan itu. Mereka melihat pergerakan yang dipelopori “Madrasah Aligarh” di India dan “Madrasah Muhammad Abduh” di Mesir dengan penuh keraguan dan buruk sangka, tidak kurang dari keraguan mereka terhadap kebudayaan Eropa itu sendiri” [As Sunnah Al Muftara ‘Alaihi, hal.207]

Benar pernyataan Gibb, umat Islam menyadari bahaya yang ditimbulkan dari pemikiran Sayyid Ahmad Khan dalam masalah agama. Setiap penulis tafsir dan hadits di benua India telah membantah Sayyid Ahmad Khan dan sikapnya terhadap pembelokan nash-nash, penakwilannya terhadap mukjizat-mukjizat. Beberapa pendapatnya yang aneh: Iman adalah pembenaran dengan hati. Apabila seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat di dalam hati, maka ia mukmin meskipun ia menyerupai suatu kaum dalam karakteristik agama dan symbol kekafiran, seperti zina, salib dan hari raya; juga, Kenabian adalah suatu watak kuat yang bersifat fitrah yang termasuk pendidikan moral. Mukjizat para Nabi bukan termasuk bukti kenabian dll. –ed)

Categories: Umum